Menafsirkan lagu #1: 168, Monita Tahalea

Bogor, 15 Juli 2017

Bakat baru ditemukan

Beberapa bulan ini saya menemukan bakat  baru saya yang terpendam. Lebih tepatnya disadarkan oleh teman, sih.

Waktu itu cucurakan di rumah Ami Paramitasari dalam rangka arisan pertemanan. Cucurakan sepemahaman saya adalah adat sunda berupa kumpul bersama untuk makan-makan dengan maksud merayakan kehadiran ramadhan yang akan tiba. Selesai makan-makan, sambil menunggu hujan reda  (maklum kota hujan, tapi hujannya deras banget memang waktu itu sampai dikabarkan salah satu rumah teman kami kebanjiran) kami nyanyi-nyanyi dengan iringan gitar dari Ami.

Pilih-pilih lagu. “Tau nggak lagu ini?”, “Nyanyi lagu ini dong enak lagunya” dst… Kita juga seringlupa judul  sebuah lagu “yang lagunya kayak gini..na na na ..judulnya apa ya?” dan paling sering saya menjabarkan “ oh yang ceritanya tentang bla bla bla bla ya”. Sampai akhirnya Novirin Razanah jati menyadarkan saya dengan bilang “Qin, kayaknya lu jago ya bisa nyeritain n tau maksud lagu-lagu tadi”. Dalam hati saya jawab “oh iya ya, kok bisa ya.. yang lainnya nggak kepikiran”.

Ok fix dari situ saya tau kalo saya punya bakat menafsirkan pesan dari lagu itu, *(halah so’ banget). Kalau ditelisik lagi, selain suka membayangkan video klip dari sebuah lagu yang didengar, saya juga sering banget ngebahas maksud dari sebuah lagu sama beberapa temen. Waktu itu pernah ngebahas bareng Helda Astika Siregar tentang lagunya Tulus, dan belum terpecahkan kenapa ada angka “247” di lagunya tulus yang berjudul bunga tidur. Kalau helda sih ke ge-er an 247 itu karna nomer kamar pas dia di asrama. Hadeh.

REVIEW: 168, Monita Tahalea

monita tahalea albumTapi sekarang, sebagai permulaan saya nggak ngebahas lirik lagunya Tulus dulu. Kita akan mencoba mengartikan dan mendalami pesan yang ingin disampaikan dari lagunya Monita Tahalea di Albumnya yang ke-3, judul lagunya 168. Baru dengar beberapa hari ini, padahal albumnya sudah ada sejak 2015. Lagu ini cukup unik dari judulnya yang berupa deretan angka dan liriknya yang seolah membuat kita mengikuti sebuah cerita alias didongengkan.

“168”

sebuah nostalgia yang takkan terlupa
tentang gadis bingung dan pengembara
berbagi cerita di penghujung senja
menunggu datangnya hujan

tiada kunjung datang hujan yang dinantikan
namun hari-hari semakin berarti
berteman butir waktu berpayung langit mendung
akhirnya yang tiba cinta

ternyata bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti kan bertemu kembali

cinta bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
oh walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti, sampai nanti bertemu kembali

Il y a longtemps que je t’aime, jamais je ne t’oublierai

 

 

 

Lagu ini bisa dibilang menggunakan sudut pandang si gadis bingung. Ia bernostalgia atas apa yang dia rasakan. Bercerita tentang dua orang (gadis bingung dan si pengembara) yang bertemu karena sedang menunggu sesuatu yang sama, dalam lagu ini sesuatu itu diibaratkan sebuah hujan. Mereka habiskan waktu bersama sambil bercerita selama menunggu kadatangan hujan. Hari hari terus berganti dan semakin berarti diantara mereka, 24 jam 7 hari.. dan tak terasa yang  tiba adalah cinta. Sederhananya cinta hadir disana. Akhirnya disimpulkan bahwa cinta itu bukan hanya tentang menanti dan menunggu, tetapi memang sudah waktunya untuk bertemu, alias sudah ditakdirkan bertemu oleh Tuhan. Dan cinta pun bisa tumbuh dan tiba karena pertemuan yang terus menerus. Karena si pengembara ini harus melanjutkan pengembaraan, Cinta nggak harus berakhir bersama, memiliki dsb, mungkin nanti ketemu lagi. Pada akhir lirik disampaikan sebuah harapan tentang kebersamaan yaitu disampaikan dengan kalimat lirik “mungkin nanti”  dan “Sampai nanti bertemu kambali”. Mengandung harapan untuk sebuah pertemuan kembali. Lirik terakhir adalah bahasa Perancis yang terdengar sangat romantis “Il y a longtemps que je t’aime, jamais je ne t’oublierai” yang artinya “I love you since a long time, I will never forget you”.

Kenapa 168? Selidik punya selidik di dunia maya (belum punya kesempatan langsung tanya ke monita nya, hehe),  ternyata 168 itu artinya adalah 24 (jam) x 7 (hari) = 168 jam. Perihal benar atau nggaknya, saya setuju dan angka 168 menggambarkan hari-hari dan waktu yang dihabiskan selama bertemu.

Point penting dari lagu ini adalah:

“Cinta bisa hadir tanpa diminta, tanpa ditunggu”

Jadi tenang “Kalau jodoh nggak akan kemana kalau sudah ditakdirkan pasti bertemu” Tuhan lebih tahu tentang diri kita.

dan jangan lupa untuk selalu “menyelipkan harapan”

Dan memang,  lagu ini berasal dari cerita yang sudah dituliskan sebelumnya dalam blog pribadinya monita (lebih lengkapnya silahkan baca di http://monitangelica.blogdetik.com/2014/08/14/si-bingung ), yang nggak kalah enak buat dinikmati dari lagunya. Perform Monita dengan lagu 168

Beneran lagunya bikin terngiang-ngiang di kepala, dan yang terpenting lagunya menginspirasi.  Saya juga seneng lihat video behind the music nya:  Behind the Music DANDELION

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s