Kehilangan : “Nothing is really yours”

Bogor, 11 April 2016

“Nothing is really yours”

Kata “kehilangan” akan muncul ketika kita merasa memiliki. Tapi tahukah kau, bahwa sesungguhnya tidak ada yang kita miliki di sunia ini. Sekalipun itu dirimu sendiri. Benar. Tak ada. Tanpa kecuali. jadi kata kehilangan itu seharusnya juga tidak ada. Karena kita tidak benar-benar memiliki. Yang ada hanyalah kita dititipi.

Beberapa barang yang menurutku penting yang telah dititipkan oleh Maha Pemilik Semesta, kini telah berpindah tangan. Beberapa waktu setelah  berpindah tangan apa-apa yang telah dititipi itu, tak ada yang berbeda. Tak ada rasa sedih, hanya sesekali kebingungan bagaiman  hal itu bisa terjadi dan sekarang sedang ada di tangan siapa. Tapi lama kelamaan ada rasa menyesak di hati, entah apa itu, padahal seharusnya tidak boleh. Kejadian ini juga membuatku jadi berprasangka buruk. Seharusnya tidak.  Barang itu adalah satu  laptop dan dua unit handphone.

Kejadian yang beberapa hari itu terjadi padaku sebenarnya, kadarnya tak ada apa-apanya dibandingkan rasa “kehilangan” yang pernah aku rasakan sebelumnya. Sekitar 1 tahun yang lalu. Kehilangan seseorang, bukan lagi sesuatu. Ah, seharunya tak lagi ku sebut itu sebagai kehilangan.

Tragedi berpindah tangannya hp dan laptop beberapa hari berlalu menjadi biasa saja, hanya ku harus bekerja keras merekap data apa yang hilang dan harus segera ku selesaikan. Tapi menjadi sangat menyesakkan lagi beberapa waktu kemarin, karena usaha ku tak terlalu keras untuk mengupayakan apa yang telah dititipi itu ditemukan kembali. Tapi hati ini selalu ditenangkan oleh mereka. Ya, mereka di sekelilingku – atau dalam kenyataan tak disekelilingku, namun masih berkomunikasi karena kecanggihan teknologi zaman sekarang- bahwa ini adalah pertanda : aku di uji untuk menjadi naik tingkat, atau rezeki ku ditambahkan dari sisi lain, usaha yang telah dilakukan akan sukses, atau ini adalah cara sang pemilik semesta untuk mengingatkanku agar berhati-hati dan lebih amanah lagi atas titipannya, atau nantinya sang pemilik semesta ini bermaksud untuk menggantikan dengan hal yang lebih baik lagi.

Kini ku berhusnudzon bahwa hidup ini adalah sebab-akibat, tak ada akibat yang terjadi tanpa sebab, dan akibat suatu kejadiaan bisa jadi penyebab untuk kejadian hidup seklanjutnya. Bahwa cerita hidup ini adalah saling berhubungan, walau begitu ruwetnya yang tampak, seperti saat kita lihat keruwetan benang dibawah kain pemidang para penyulam, tapi jika kau lihat dari atas, sebenarnya itu semua membuat pola dan indah dipandangi. Jalani saja dengan berhusnudzon pada sang penyulam itu, dan jalani dengan kesungguhan bahwa sebenarnya itu membentuk pola kehidupan yang indah. Ini tergantung bagaimana kau memaknainya saja. Memaknai hidup. Dan sejatinya kita sebenarnya tidak benar-benar memiliki sehingga seharusnya tidak merasa kehilangan dan bersedih berlarut-larut. Tetapi diberi tanggungjawab untuk merawat dan menjaga yang dititipi. Karena hidup harus dijalani.

Terima kasih Kau. Terima kasih kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s