Percakapan Saat Reuni

Disuatu café di bilangan Jakarta. Kursi-kursi yang serba berwarna cokelat sebagian terbuat dari kayu, sebagian lagi empuk dengan busa pengisinya. Di meja kayu berbentuk persegi itu duduklah tiga orang perempuan. Sahabat lama yang kini bertemu kembali. Anggap saja ini sebgai reuni. Ketiganya adalah sahabat sejak sekolah menengah pertama. Sudah lebih dari 9 tahun mereka saling mengenal sejak duduk di bangku SMP. Tapi memang tak sering bertemu, karena kesibukan masing-masing.

Aza adalah cewek tomboy berparas cantik. Kaos oblong dan gaya rambut pendek yang selalu menjadi andalannya.

Sarah  juga cukup tomboy, tapi karena dibalut dengan hijab, ketomboyannya tidak terlalu begitu nampak. Tak seperti aza.

Arin adalah perempuan yang selayaknya perempuan lainnya, berdandan menggunakan lipstik dan bedak, tak seperti aza dan Sarah.

“Pada mau pesen apa?”Aza bertanya pada sarah dan arin yang masih mencoba membuat duduk mereka nyaman.

“gue mocacino aja, za” jawab arin

“Hmh…Gue Teh tarik aja deh” jawab sarah setelah membolak-balik menu yang ada di meja

“Gue yang traktir ya hari ini, guys” Aza merasa perlu mentraktir teman-temannya ini karena dialah yang mengundang teman-temannya untuk berkumpul dan reuni hari itu.

Setelah mengobrol banyak hal.  Akhirnya aza menyampaikan maksudnya mengumpulkan teman-temannya di café bergaya modern-tradisional itu.

“gini, gue mau minta bantuan kalian. Boleh?” tanya aza memulai pembicaraan

“Bantuan apa dulu nih za. Kalau bantuan buat nge- cat rumah lu mah, gue nggak bisa.” Jawab canda dari Sarah

“ya nggak lah. Gue mau minta bantuan lu buat motoin acara gue, rah”

Arin masih saja asik menikmati minuman dingin yang telah dipesannya itu.

“buat pre-wedding, za?” asal saja sarah bertanya.

“nggak, buat acara lamaran gue” Aza langsung menyambung.

“wah… za… ikut seneng, kapan, kapan? Sarah kaget sekaligus bahagia tak terkira mendengar kabar baik itu. Senyumnya langsung tambah melebar, dan karena terlalu senangnya, tangannya menggoyang-goyangkan badan aza agar aza segera menjawab pertanyaan kapan peristiwa bahagia itu perlu ia abadikan dalam kameranya.

“tanggal 3 , rah. Bisa kan?” Jawab Aza.

“Ok, nanti gue buat remainder di hp gue ya” Sarah langsung membuka hp dan menuliskan catatan di aplikasi kalender pada tanggal 3 Oktober 2017. Tertulis disana aza lamaran, gue motoin.

“Lu nggak ada acara kan di tanggal itu? Masih sebulan lagi sih, gue takutnya lu ada acara, kan lu sibuk terus, rah”  aza memastikan kembali, karena memang sarah ini orangnya terlalu sibuk ikut seminar inilah,ikut lomba itu lah ,ngadain event apa lah. Banyak pokoknya, Sarah seperti bajing yang siap melompat dari satu tempat ke tempat lain bogor, bandung, jakarta, depok, bekasi, tapi memang untungnya belum keluar pulau jawa, sehingga aza masih bisa mengupayakan mereka bertemu reuni di café itu.

“Insya Allah Nggak ada” Sarah masih senyum-senyum saja, ikut merasakan bahagia.

“rin, jangan-jangan lu udah tau ya?” tanya sarah, karena arin tak terlihat begitu kaget seperti dirinya.

“iya” arin menjawab sambil tersenyum.

“ih, parah lu baru pada bilang ke gue.

———–

Di meja itu kami menceritakan apa saja yang kami lalui saat ini. Sampai pada bagian dari kisah..

“sekarang sih, masih nggak ada, rah. Cuma ya begitu, gue deket lagi sama mantan gue” arin

“yang mana rin?” tanya aza.

“yang kata lu nggak boleh itu, za. Roni. Nggak tau kenapa gue balikan lagi”

“iya, soalnya kalau sama yang itu nanti lu sakit hati terus, rin” aza.

Aza memang begitu sangat dekat dengan Arin. Maklum saja rumahnya tak sejauh rumahnya dengan rumah sarah.  Meski sudah tidak satu SMP lagi Arin dan Aza masih sering bertemu dibanding dengan Sarah. Sarah juga terkenal sibuk. Karena tak tahu kabar mereka sampai sedetail itu, Sarah hanya menyambung pembicaraan itu dengan, yang mana? Waduh gue nggak tau. Masa?!

Sudah begitu saja diantara percakapann itu. Sampai akhirnya aza bertanya

“terus kalau lu bagaimana, rah?”

Sarah menjawab polos, “bagaimana apanya?”

“ Nggak adakah cerita kayak kita ini?”

Hening.

Dalam hati sarah ada yang tersembunyi, tapi memang sengaja tak ia ceritakan pada siapa-siapa. Munkin hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Dan entah bagaimana cerita itu beralih ke yang lain.

 

Bogor, Oktober 2015

One thought on “Percakapan Saat Reuni”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s