1444128742055

Cuplikan Ayah – Izmi hlm.39-44 –

IZMI (HAL 39-44)

Karena tak1444128742055 ingi melihat kawan menggantang asap, tak sampai hati melihatnya ditolak Lena hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, sampai Senin lagi. Ditolak pagi, siang, malam, full time, berkali-kali Ukun, Tamat, dan Toharun mengingatkan Sabari agar melupakan Lena.

“Dia melirikmu? Sama dengan ayam mengeong, mustahil,” kata Tamat.

“Mending kau bergeser ke arah Shasya’” saran Ukun.

“Berdasarkan perhitunganku, rasa sayang Lena padamu lebih kecil dariada rasa bencinya. Kita tahu dalam Matematika, nilai yang lebih kecil dikurangkan dengan nilai yang lebih besar, hasilnya nol. Maka nol persen, itulah peluangmu,” kata Toharun. Wajar nilai Matematika-nya 2.

Sabari tak terpengaruh oleh suara-suara yang mengecilkan hati itu. Baginya itu bunyi distorsi radio, menguing-nguinglah sesuka kalian. Dia fokus kepada Lena. Dia tak mau dan tak dapat pindah ke frekuensi lain.

Untuk keperluan itu dia punya mata-mata, yaitu salah seorang kawan terdekat Lena, Zuraida, yang senang saja disogok Sabari dengan buah nangka hasil kebun sendiri.

Di bawah pohon urisan, di belakang sekolah, sambil sibuk memamah biak nangka, Zuraida berkisah bahwa Lena suka main kasti. Kasti?Berdebar dada Sabari.

Sabari yang tak pernah suka olahraga, yang badannya seperti mau patah kalau ditiup angin barat, bulan berikutnya terpilih masuk tim inti kasti SMA. Lain waktu Zuraida berkata bahwa Lena suka lompat jauh. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu Sabari menggondol juara pertama lompat jauh tingkat SMA. Gayanya melompat macam belalang sembah. Izmi bertepuk tangan.

Izmi, kawan sekelas Zurai, dianggap siswa lain mirip Ukun, Tamat, Toharun, dan Sabari sendiri, yakni sama-sama orang yang tidak keren, para pecundang. Wajahnya tak menarik. Nilai rapornya buruk karena dia harus bekerja mencuci dan menyetrika pakaian tetangga sampai malam. Profesi itu sudah dijalaninya sejak kelas dua SMP. Jika berkaca, sering Izmi benci kepada dirinya sendiri karena tak ada yang dapat dibanggakan dalam dirinya. Dia selalu merasa dirinya sial.

Keluarga Izmi tadinya kaya, tetapi mendadak miskin. Waktu Izmi kelas satu SMP, ayahnya ditangkap ppolisi lantaran korupsi. Semua harta benda disita. Keluarga itu kocar-kacir. Untuk bertahan, ibu Izmi berjualan kue. Izmi, anak tertua, menjadi tukan cuci dan setrika. Gara-gara musibah itu, Izmi yang bercita-cita ingin menjadi dokter hewan mengubur cita-citanya dalam-dalam.

Jumlah angka merah rapor Izmi pada semester 1 tidak tanggung-tanggung, delapan. Yang biru nilainya hanya Pendidikan Keterampilan Keluarga, yang merupakan kejahatan jika sampai seorang siswa dapat angka merah. Kata wali kelasnya, Izmi pasti takkan naik ke kelas dua.

Izmi berkecil hati dan bermaksud berhenti sekolah. Tak ada gunanya belajar, mending bekerja, dapat membantu keluarga. Namun, nasib berkata lain. Saat berada dalam pertimbangan yang putus asa itu, dia mendengar cerita Zuraida soal kerasnya perjuangan Sabari untuk mendapatkan Lena.

Izmi bukanlah kawan Sbari–mereka bahkan tak pernah bertegur sapa–tetapi ajaib, kisah konyol Sabari membuat Izmi terinspirasi. Sabari membuatnya merasa dia bukan satu-satunya orang yang malang di dunia ini.

Kata Zurai, Lena suka menulis indah. Minggu depannya Sabari sudah menjadi kaligrafi. Dia bisa menulis nama Marlena binti Markoni dengan huruf-huruf berupa burung merak. Semangat belajar Izmi pelan-pelan bangkit.

Kata zurai. Lena suka melihat laki-laki pakai baju seragam. Agustus berikutnya, Sabari yang suka bolos upacara, terpilih masuk tim Paskibra SMA. Terpana Izmi melihat Sabari berbaris macam siswa sekolah militer.

Sabri masuk band SMA demi mendengar kabar angin Lena suka sama pemain gitar band itu. Karena tak bisa main musik, Sabari menjadi tukang gulung kabel yang berdedikasi tinggi.

Tak seperti para pemain band  yang berantakan, Sabari rapi jali. Tak bisa dia melihat kabel centang-perenang tak karuan, pasti digulungnya. Kerap dia dimarahi lantaran menggulung kabel di atas pentas tak peduli pertunjukan sedang berlangsung. Terpingkal-pingkal Izmi melihatnya repot sekal menggulung kabel di antara anak-anak band yang tengah berjingkrak-jingkrak membawakan lagu “The Final Countdown”.

Akhirnya Sabari kena pecat ketua band, yang juga gitaris cakap yang ditaksir Lena itu. Sabari tak terima. Dia protes di muka ketua OSIS, katanya tak pernah band itu sebersih dan serapi sejak dia bergabung sebagai pembantu band, dan bahwa kabel-kabel yang tak tertib dapat menyebabkan orang kena sambar listrik, bahwa betapa ia mencintai musik dan menyukai pekerjaannya, meskipun menjadi jongos kawan-kawannya sendiri. Ketua OSIS tak berdaya karena yang memecat Sabari kemudian bukan hanya ketua band, melainkan juga seluruh anggota band. Apa boleh buat.

Kata Zurai, Lena puna hobi sahabat pena. Sering dia berkirim surat kepada sahabat pena di Sumatera. Sabari mengirim surat kepada Patrick Confident Mwana di Zimbabwa.

Dear Mister Patrick Confident Mwana.

My name is Sabari, from Nelitong Island, Indonesia.

I am high school student.

I see you in the Sahabat Pena Magasin, very very good.

I want  friend with you.

Iam sorry my english very very bad, 4 in my raport, very very red.

But let no english good, Iwrite a poem for you.

I have a friend

My friend from Afrika

I love my girlfriend

Her name is Marlena

What you think very very much.

If you want write letter fot me, my address on envelope.]

Sincerely yours.

Very very happy.

Sabari

 

Malangnya, seluruh prestasi Sabari yang fenomenal itu membuat Lena malah semakin brutal menolaknya.  Jika dulu dia sekedar tidak membalas surat Sabari, sekarang surat-surat itu dirobeknya kecil-kecil lalu dihamburkan di tempat parkir.

Jika dulu dia hanya mengatakan tak usah ya jika dikirimi Sabari nangka hasil kebun sendiri, diserti satu kartu ucapan manis, “Purnama Kedua Belas, silahkan menikmati semua kebaikan dari buah nangka”, kini dibantingnya nangka hasil kebun sendiri itu sambil ngomel-ngomel.

Adakah kemudian Sabari membenturkan kepalanya ke pohon nangka? Tidak. Adakah dia mengikat tangan dan kakinya sendiri lalu memplester mulutnya? Tak tahu bagaimana caranya, sebab bukankah tadi tangannya terikat? Lalu, menceburkan diri ke Sungai Lenggang agar ditelan buaya muara bulat-bulat? Tidak. Ataukah dia menggunakan cara-cara picik, bahkan anarkis, untuk menarik perhatian Lena? Maaf, Sabari tak punya sifat-sifat obsesif semacam itu. Halo?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s