informasi pada tugu slavenbel

Sejarah Wisma Tamu IPB, “Landhuis” = Rumah Tuan Tanah

tampak depan Wisma Tamu IPB Landhuis yang bersejarah
tampak depan Wisma Tamu IPB Landhuis yang bersejarah

Landhuis Van Motman yang sekarang merupakan Wisma Tamu IPB Landhuis pada zaman belanda merupakan kediaman resmi keluarga van motman yang pada zaman dahulu disebut dengan Groot Darmaga. Pada masa itu terdapat 20 kamar. Lalu pada tahun 1958 adalah pemulangan besar-besaran semua orang Belanda di Indonesia, sehingga seluruh asset diberikan kepada Negara Indonesia. Pada waktu itu beranda depan Landhuis ini bisa melihat pemandangan Gunung Salak. “Landhuis” sendiri artinya adalah rumah tuan tanah, menurut sejarah terdapat 3 rumah tuan tanah (Landhuis) milik keluarga Van Motman, yaitu di Darmaga yang saat ini menjadi wisma tamu IPB yang terletak di Jalan Tanjung No.4, kampus IPB Darmaga, yang kedua ada di Jasinga yang fotonya ada di museum Belanda, dan di Jambu yang tidak diketahui jejak keberadaanya. Landhuis yang berada di Darmaga ini terdapat Slavenbel atau lonceng budak yang pada zamannya digunakan untuk mengumpulkan para pekerja kebun. Slavenbel ini dulunya berada dibelakang Landhuis, namun pada tahun 1980 kemudian dipindahkan ke halaman depan Landhuis.

informasi pada tugu slavenbel
informasi pada tugu slavenbel

Darmaga tempat beradanya Groot Darmaga ini, pada zaman belanda memiliki julukan Liberia-Coffe plantingen atau perkebunan kopi Liberia, karena salah satu komoditas yang ditanami di Darmaga adalah Kopi. Pada awalnya kopi adalah komoditas yang ditanam, namun tidak mengalami keuntungan maka beralih ke komoditas tebu dan teh, namun komoditas teh terjangkit wabah lalat hitam, kemudian komoditas ditambah dengan komoditas karet. Sampai saat ini di beberapa wilayah di kampus IPB Darmaga masih ditumbuhi dengan pohon karet.

Gerrit Willem Casimir (GWC) Van Motman adalah pemuda Belanda yang merantau ke Hindia (Batavia). Selama dua tahun menjadi Clerck Rendahan untuk VOC, Kemudian menjadi Administrator gudang Baja di Batavia, dan kemudian mengurusi gudang kopi di Bogor. Awal abad 19 sudah menjadi mayor, setelah VOC Bangkrut , GWC menjadi tuan tanah di Bogor. Luas lahan nya di bogor mencapai 117.000 Ha yang tersebar luas ke dalam 14 titik lokasi, salah satunya yaitu di Darmaga. Setelah GWC Meninggal, tanah di darmaga dan Jasinga diwariskan ke anak keduanya yaitu Jacob Gerrit Theodore. GWC meninggal di Darmaga pada 25 mei 1821. Makam keluarganya yang disebut Moseleum van Motman berada di Leuwiliang yang bangunan gedung komplek pemakamannya meniru desain gedung Basilica Santo Petrus di Roma, Italia.

awalnya lonceng ini berada di belakang landhuis, namun kemudian di pugar dan di pindahkan ke halaman depan
awalnya lonceng ini berada di belakang landhuis, namun kemudian di pugar dan di pindahkan ke halaman depan

Landhuis atau Groot Darmaga ini setelah menjadi milik Negara Indonesia, pernah ditinggali oleh Presiden Soekarno, dan sering berkunjung ke Landhuis. Pada tahun 1960 menjadi asrama mahasiswi IPB, pada tahun 1980 menjadi kantor dekan FATEMETA atau yang saat ini disebut Fateta (Fakultas Teknologi pertanian), tahun 1990 menjadi kantor proyek pembangunan kampus baru Darmaga, dan kemudian pada tahun 1996 menjadi rumah dinas Rektor. Terakhir Landhuis menjadi wisma tamu dan klub Dosen IPB. Saat ini di dalam salah satu lorong di Landhuis terpampang tulisan Prof Syamso’oed Sajad yang dimuat di Koran nasional, yang berisi mengenai “Jiwa Pionir seorang Motman perlu disadap” menjadi sebuah pembelajaran dan dijiwai oleh mahasiswa dan lulusan IPB.

One thought on “Sejarah Wisma Tamu IPB, “Landhuis” = Rumah Tuan Tanah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s