Mati Sunyi, Pembela Global yang Tak Ingat Lokal

kumpulan cerpen Pilihan Kompas 2004: sepi pun menari di tepi hari.

Darib3s-2012-04-08-cerpen-agus-r-sarjono-dkk-sepi-pun-menari-di-tepi-hari-kumpulan-cerpen-pilihan-kompas-2004 enam belas cerpen yang ada di buku ini saya sangat terkesan sama satu cerita yang berjudul Mati Sunyi, karangan Cok Sawitri. bercerita tentang kondisi pasca kematian seorang yang memperjuangkan perdamaian dunia. Karyanya, pidatonya, pemikiranya untuk dunia di cetak di beberapa buku, di muat dalam koran, pendapatnya menjadi sebuah acuan. menjadi panutan. memperjuangkan hak-hak perdamaian dunia, sang pejuang kemanusiaan. namun tidak bagi warga dimana ia dilahirkan. perkataanya tak dapat membius pemikiran orang seperti yang terjadi diluar kampungnya. di perkotaan. sampai pernah suatu pengamat berkomentar bahwa ia berhak mendapatkan nobel perdamaian. namun, di desa ini kehidupan nya tak menarik perhatian bagi sebagian lainnya, karena hidupnya sebenarnya jauh dari sosial masyarakat lokal. masyarakat dimana ia di lahirkan. Aktivitasnya jauh dari desa. Ide dan pemikirannya hanya untuk dunia, bukan untuk lokal, untuk desa. Ia tak memberikan solusi dalam pemecahan masalah desa. Pemikirannya hanya untuk dunia.
Upacara kematian ‘ngaben’ ingin dilaksanakan oleh pihak keluarga. med
i pun melihat ini sebagai bahan berita yang menarik, menganggap betapa sang pejuang kemanusiaan ini masih mengikuti ritus adat, walau dalam masa hidupnya ia mengkritiki tentang adat. Namun warga tak ikut serta. padahal ‘ngaben’ bukan sekedar aktivitas, walau butuh dana yang tidak sedikit, tetapi yang penting adalah butuh tenaga dan dukungan dari orang banyak, ini adalah aktivitas sosial yang besar. Namun disini, di kematian ini, sunyi. Masyarakat tak hadir dalam ‘ngaben’, hanya duduk di teras rumah melihat kegiatan itu. Tak ikut membantu. Karena memang sang pejuang kemanusiaan dunia ini tak membantu memperjuangkan kemanusiaan di lokal.
Cerita ini mengingatkanku akan pesan dosen-dosen ku saat duduk di bangku kuliah. Wejangan-wejangan tak luput mereka sampaikan. Pesan sederhana “think globally, act locally”.
-saqinah nur rahmawati-

6 thoughts on “Mati Sunyi, Pembela Global yang Tak Ingat Lokal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s