Konversi Lahan Sebagai Ancaman Bagi Orangutan Kalimantan

Oleh : Saqinah Nur Rahmawati

 

Orangutan hidup dalam kawasan yang dilindungi dan tidak dilindungi. Orangutan kalimantan terdapat dalam 15 kawasan perlindungan, namun separuh dari kawasan yang ada bukan merupakan habitat yang medukung  bagi Orangutan. Ditambah lagi penyusutan yang drastis terus terjadi selama dua dekade terakhir (Atmoko, 2007). Habitat yang berkurang dengan adanya perubahan hutan tropis di pulau ini dan adanya konersi hutan tropis menjadi perkebunan. Perkebunan di bidang pertanian ini tidak hanya perkebunan kelapa sawit, tetapi juga akasia, padi, coklat dan sebagainya. Akibat pengkonversian lahan ini 15,5 juta hektar hutan tropis (24% dari total wilayah hutan) terhitung sejak tahun 1985 dan 1997 di sumatera dan kalimantan (FAO, 2000). Kini hanya 86.000 km² habitat yang tersedia bagi Orangutan.

Konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan merupakan respon dari  besarnya kebutuhan internasional akan komoditas ini diantaranya dipergunakan untuk memasak, kosmetik, mekanik dan kebutuhan untuk dijadikan sumberdaya penghasil biodiesel.

Kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Kelapa sawit telah menjadi produk pertanian yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel (Butler, 2010).

Membuka hutan hujan di dataran rendah untuk perkebunan merupakan pengundulan hutan yang menyumbang 24% dari pengggundulan hutan di Indonesia adalah untuk perkebunan kelapa sawit (FAO, 2000). Menjadi sangat perhatian bahwa Indonesia telah mengumumkan rencananya untuk melipatgandakan produksi minyak kelapa mentahnya pada tahun 2025 (Butler, 2010), suatu target yang akan membutuhkan 2 kali lipat peningkatan di hasilnya atau justru memperluas daerah yang akan ditanami kelapa sawit. Hal ini menjadi perhatian besar, karena jika dilakukan perluasan daerah penanaman kelapa sawit berarti semakin luas hutan yang di konversi, dan semakin menempitnya habitat ruang gerak Orangutan Kalimantan.

Selain dampak penggundulan hutan ada dampak lain yang harus diperhatikan oleh semua pihak yakni dampak terhadap lingkungan. Perkebunan di Indonesia sangat merusak karenanya setelah 25 tahun masa panen, lahan kelapa sawit kebanyakan ditinggalkan dan menjadi semak belukar. Tanah mungkin akan kehabisan nutrisi, terutama pada lingkungan yang mengandung asam, sehingga beberapa tanaman mungkin tumbuh, menjadikan wilayah tersebut tanpa vegetasi selain rumput-rumput liar yang akan mudah sekali terbakar.

Beberapa studi telah menemukan penurunan jumlah keanekaragaman hayati diantaranya penurunan  80% sampai 90% mamalia, burung dan reptil (Butler, 2010). Banyak hewan yang tidak akan dapat masuk perkebunan, seperti Orangutan yang menjadi hama perkebunan sehingga beberapa perusahaan memusnahkannya dengan perburuan liar petugas perkebunan atas dasar  penanggulangan kerusakan yang akan dilaukan oleh Orangutan. Dengan adanya perkebunan kelapa sawit seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa lahan bekas garapan Kelapa sawit tidaklah lagi subur, sehingga secara tidak langsung perkebunan kelapa sawit mengurangi daya dukung hidup satwa liar pemakan tumbuhan seperti Orangutan yang merupakan pemakan buah (frugivory), namun terkadang memakan serangga, sehingga Orangutan terancam kelestariaanya. Pengurangan daya dukung ini (berkurangnya luasan habitat, berkurangnya ketersediaan makanan dan minuman) perlahan-lahan akan menyebabkan kepunahan. Suatu spesies dikatakan punah ketika tidak ada satu pun individu dari spesies itu yang masih hidup di dunia (Primack dkk, 2007). Kondisi Orangutan saat ini sangatlah memprihatinkan, namun legi-lagi diperparah oleh aktivitas manusia yang terus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Membahas mengenai pemusnahan Orangutan Kalimatan oleh perusahaan perkebunan Kelapa sawit secara sengaja karena dianggap hama perusak dengan perburuan secara liar oleh petugas perkebunan adalah suatu ironi bagi negeri ini. Disisi lain upaya-upaya telah dilakukan seperti pembuatan Peraturan Perlindungan binatang liar No.233 Tahun 1931, UU No. 5 Tahun 1990, SK MenHut 10 Juni 1991 No. 301/Kpts-II/1991 dan PP No. 7 Tahun 1999 sebagai bentuk upaya penegakan hukum. Namun smuanya kembali kepada penyadaran akan pentingnya melindungi satwa endemik ini dengan penanaman etika konservasi dengan terus melakukan gerakan yang nyata untuk mengkonservasi Orangutan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s