CITES (Convention on International in Trade Enderaged Species of Flora and Fauna)

Oleh: Saqinah Nur Rahmwati

Di tandatangani di Washington DC pada tanggal 3 Maret 1973. Konteksnya pengaturan perdagangan komersil terhadap satwa dan tumbuhan yang terancam punagh dan pengaturan dan pengawasan terhadap hidpan liar yang mengancam terjadinya kepunahan. Pada awalnya ada 21 negara yang menjadi anggota, kemudian Indonesia bergabungpada tanggal 15 desember 1978 melalui Keppres No.43/1978 menjadi negara yang ke 48. Persoalannya mengenai penegakkan hukum, penentuan kuota dan teknis pengawasan. Contracting partis-negara anggota- punya kewajiban untuk memantau perdagangan intenasionald ari spesies-spesies terSebut sesuai peraturan CITES.

APPENDIX CITES 1

Berisi daftar satwa dan tumbuhan liar yang keberadaanya di alam sudah sedikit dan terncam punah, sehingga perdagangan komersil dalam bentuk apapun tidak di perbolehkan.  Jika ingin melakukan ekspor impor spesies yang masuk kedalam APPENDIX 1 diperlukan izin khusus. Sampai tahun 2000 ada 800 spesies yang masuk APPENDIX 1.

APPENDIX CITES 2

Berisi daftar satwaliar dan tumbuhan yang akan mengalami kepunahan jika perdagangannya tidak di atur secara ketat. Perdagangn diperbolehkan  hanya untuk negara tertentu (range country : yaitu dua negara yag memiliki spesies yang sanma an masuk dalam APPENDIX 2) dan perdagangan selain range ountry tapi dega pembatasan kuota. Perdagangan terhadap spesies dalam appendix ini pengekspor  hrus dengan izin dari management authority dan management authority (Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) telah memperoleh saran dari Sientific authority(LIPI)  dan scientific authority sebelum memberi saran sudah melakukan pengkajian mendalam ssecara ilmiah bahwa yang di perdagangkan tersebut tidak terganggu keberadaannya di alam.

APPENDIX CITES 3

Berisi daftar satwaliar dan tumbuhan yang diberlakukan oleh range countries untuk mewujudkan kontrol yang ketat bagi perdagangan spesies yang berasal dari wilyahnya.  Ketentuan-ketentuan dalm appendix 1 dan 2 berlaku untuk semua range countries. Jika terjadiperbedaan pendapat antar range countries sehngga tidak semua range countries tidak sepakat untuk memasukkan spesies tertentu ke dalam appendix 1 dan 2 maka spesies tersebut dimasukkan ke daam appendix 3 dan berlaku haya untuk negara yang menginginkannya. Untuk melakukan ekspor maka negara pengekspor harus mengelurkan izin ekspor dan negara tujuan harus mengeluarkan keterangan asal dari pesies tersebut ( certivicate of origin)

Isu penting lain

  1. Tiap negara anggota CITES punya tingkat keketatan dan kedisiplinan yang berbeda (Article XIV). Pendekatan ini dilaukan oleh negara EC Dan USA. Di negara tersebut diberlakukan appendix 2 yang sama seperti pada appendix 1. Hal ini dikarenakan EC melakukan pengontrolan ganda oleh EC official dan mensyaratkn apa yang disebut non-detriment finding (fakta tidak merusak) terhadap negara pengkespor tersebut ke wilayah EC
  2. Penegakan peraturan CITES terhadap negara anggota juga diperbolean (article X). Hal ini sangat penting untuk mencegah agar negara-negara tersebut tidak melakukan perdagangan ligal
  3. Kedua hal di atas menjadi konsekuensi penting bagi WTO (World Trade Oranization).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s