Berbagai Ancaman Kelestarian Orangutan Kalimantan

Oleh: Saqinah Nur Rahmawati

 

1orang utanSeperti halnya kera besar lainnya, Orangutan merupakan salah satu primata yang terancam punah di dunia. Orangutan dalam Red List IUCN (2008) termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Yang dimaksud dengan kategori Genting adalah suatu spesies dengan resiko kepunahan yag sangat tinggi di alam dalam waktu dekat, dan berisiko menjadi kritis. Dalam praktiknya  yang dimasukkan ke dalam golongan ini adalah spesies yang dalam 20 tahun atau 5 generasi memiliki rasio kepunahan lebih besar dari 50% (Primack dkk, 2007). Menurut Singleton dkk. (2004), total jumlah Orangutan diperkirakan akan menurun 14% selama kurun waktu 10 tahun yang lalu sampai pertengahan abad 20 ini.

Ancaman akan populasi satwa ini semakin besar, bukan hanya karena ancaman dari habitatnya namun juga ancaman yang ditimbulkan dari aktifitas manusia yang tidak bertanggung jawab. Perusakan hutan, konversi lahan untuk perkebunan, kebakaran hutan, eksploitasi habitat dan penebangan liar, terfragmentasinya habitat Orangutan, perburuan, dan perdagangan menjadi penyebab utama penurunan satwa ini.

Perubahan iklim juga memainkan peran penting terhadap hilangnya Orangutan Kalimantan dan akan meningkatkn keterancaman spesies genting ini dimasa mendatang. Pada tahun 1997/1998 kekeringan yang luas terjadi di Kalimantan akibat adanya El Nino yang kemudian menyebabkan kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi (Suhud dan Saleh, 2007). Hal ini juga dibuktikan oleh data yang dipublikasikan oleh Rijksen dan Meijaard pada tahun 1999 menunjukkan telah hilangnya 33% Orangutan Kalimantan selama kebakaran hutan periode tahun 1990-an.

Penebangan liar yang akibatnya merusak habitat Orangutan diakibatkan kurangnya kepedulian lokal mengenai penebangan liar. WWF mencatat bahwa kebanyakan orang di Borneo tidak begitu khawatir dengan penebangan liar. Bahkan, kelangkaan pekerjaan berarti bahwa rata-rata orang akan senang bekerja di sektor kehutanan, tak peduli dijalankan secara legal ataupun tidak. Hal ini dipicu oleh peningkatan populasi manusia yang kemudian menimbulkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri melalui ketersediaannya lapangan pekerjaan. Sehingga melakuan hal-hal yang tidak bertanggung jawab menjadi pilihan manusia untuk pemenuhan kebutuhannya.

Perdagangan Orangutan pun kian marak dengan berkurangnya populasi Orangutan di alam. Padahal Orang utan masuk dalam Appendiks I CITES (2001), yang berarti Orangutan tidak boleh diperdagangkan dimanapun juga. Namun, sistem penegakan hukum yang masih kurang sehingga masih ada saja kasus perdaganggan satwa yang dilindungi. Seperti kasus 48 Orangutan yang diselundupkan ke Thailand (Atmoko, 2007). Ditambah lagi knversi lahan menjadi perkebunan sawit menambah deretan ancaman bagi kelestarian orangutan kalimantan. (QQN)

.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s