Laporan Kuliah Lapang Dendrologi di KRB

Nggak disadari *(atau pura-pura nggak nyadar), sebentar lagi saya beranjak dari smester 6 menuju mahasiswa tingkat akhir. jadi status kami sekarang, para mahasiswa smester 6, adalah mahasiswa nyaris smester akhir. dan beberapa waktu lalu ngebuka-buka lagi file-file kuliah di smester-smester sebelumnya. dari pada cuman ada di data hardis laptop saya yang berujung pada pengumpulan buat dapetin ilmu dan nilai + kalo dibiarin disimpen aja, takutnya berlumut ini file di dalem laptop…*(haha), mending di share saja. supaya bisa lebih bermanfaat. Semoga ini bisa jadi bahan refrensi temen-temen yang butuh. tapi bukan langsung di copast (copy paste) lho… jangan lupa, cantumin di daftar pustaka temen-temen ya, kalau tulisan ini kamu kutip. semoga bermanfaat, beberapa tugas kuliah lainnya bakalan saya posting juga kok.

LAPORAN KULIAH LAPANG DENDROLOGI
KEBUN RAYA BOGOR

Nama: Saqinah Nur Rahmawati

NRP: E34100082

Dosen:

Ir. Iwan Hilwan, M.S.

Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc

Asisten:

Erekso Hadiwijoyo (E44080017)

Renando Meko P. (E44080018)

Ari Istianti (E44080038)

Muahimin (E44080042)

Risha (E44080075)

Umar Atiq (E44080084)

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1             Latar Belakang

Dendrologi adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa kehutanan IPB. Dendrologi adalah ilmu yang mempelajari pohon, penyebaran, ekologi serta kegunaannya yang penting. Dendrologi merupakan ilmu dasar yang harus dipelajari dan dipahami oleh mahasiswa yang nantinya menjadi sarjana kehutanan yang akan mengurus kehutanan.

Menurut Pusat Penelitian Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam terdapat ±4.000-4.500 jenis pohon, namun hingga saat ini baru sekitar 400 jenis pohon yang sudah dikenal dengan baik. Sehingga menjadi tantangan besar bagi mahasiswa kehutanan untuk mengenal dan mengetahui manfaat jenis pohon yang belum diketahui.

Kuliah Lapang menjadi sangat penting dalam memberikan pengetahuan dan pengenalan lebih dekat mengenai jenis pohon yang telah dipelajari di kelas sebelumnya. Kuliah lapang pun memberikan pengalaman mahasiswa kehutanan di lapangan.

1.2             Tujuan

Kuliah lapang ke Kebun Raya Bogor bertujuan untuk :

  1. mengetahui sejarah dan perkembangan Kebun Raya Bogor
  2. mengidentifikasi berbagai jenis pohon yang ada di Kebun Raya Bogor
  3. melihat lebih dekat jenis pohon yang daunnya digunakan dalam praktikum dendrologi sebelumnya.

BAB II

KONDISI UMUM

2.1Letak

Kebun Raya Bogor terletak di Kota Bogor, provinsi Jawa Barat dengan ketinggian 200 mdpl dengan curah hujan 3000-4300 mm/ tahun (Kencana dan Arifin, 2010). Awalnya luas Kebun Raya Bogor sekitar 47 ha namun kemudian dikembangkan menjadi 87 ha termasuk halaman Istana Bogor. Disekitar Kebun Raya Bogor tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, plantologi, Museum Zoologi Bogor, dan pustaka (Kencana dan Arifin, 2010). Pembagian blok wilayah di Kebun Raya Bogor berdasarkan famili. Jumlah koleksi tanaman di kebun raya ini sekitar 222 suku (famili), 1257 Marga, dan 3423 jumlah spesies. Sedangkan jumlah spesimen hidup di kebun raya sekitar 13.684 spesimen.

2.2Sejarah Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor sepanjang perjalanan sejarahnya mempunyai berbagai nama dan julukan, seperti : s’Lands Plantentuin, Syokubutzuer (zaman Pendudukan Jepang), Botanical Garden of Buitenzorg, Botanical Garden of Indonesia, Kebun Gede dan Kebun Jodoh

Kebun Raya Bogor merupakan kawasan konservasi eksitu yang bertujuan sebagai sarana koleksi tumbuhan tropika dataran rendah basah. Kebun Raya Bogor memiliki tugas atau fungsi Kebun Raya, antara lain sebagai berikut:

  1. Sebagai tempat konservasi Ex-situ,
  2. Sebagai sarana penelitian, terutama penelitian tumbuhan,
  3. Sebagai sarana penunjang pendidikan, dan
  4. Sebagai sarana wisata.

Kebun Raya Bogor berdiri pada 18 Mei 1817. Pemrakarsa berdirinya Kebun Raya Bogor adalah C.G.C. Reinwardt. Prof. Caspar Georg Carl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti “tidak perlu khawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Pada tanggal 15 April 1817 Reinwardt mencetuskan gagasannya untuk mendirikan Kebun Botani yang disampaikan kepada G.A.G.P. Baron Van Der Capellen,Komisaris Jendral Hindia Belanda dan beliau akhirnya menyetujui gagasan Reinwardt. Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama s’Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pada mulanya kebun ini hanya akan digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia).

Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Untuk perkembangan koleksi tanaman sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia, Kebun Raya Bogor membentuk cabang di beberapa tempat, yaitu:

  1. Kebun Raya Cibodas (Bergtuin te Cibodas, Hortus dan Laboratorium Cibodas) di Jawa Barat, didirikan oleh Teysman tahun 1866. Kebun Raya Cibodas luasnya 120 ha dengan ketinggian 1400 mdpl, untuk koleksi tanaman dataran tinggi beriklim basah daerah tropis dan tanaman sub-tropis. Tahun 1891 Kebun ini dilengkapi dengan Laboratorium untuk Penelitian flora dan fauna.
  2. Kebun Raya Purwodadi (Hortus Purwodadi) di Jawa Timur, didirikan oleh Van Sloten tahun 1941. Luasnya 85 ha dengan ketinggian 250 m, untuk koleksi tanaman dataran rendah, iklim kering daerah tropis.
  3. Kebun Raya “Eka Karya” Bedugul-Bali didirikan tahun 1959 oleh Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Luasnya 159,4 Ha dengan ketinggian 1400 mdpl, untuk koleksi tanaman dataran tinggi beriklim kering.

Kebun Raya Bogor selalu mengalami perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr. R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin lembaga penelitian yang bertaraf internasional. Setelah kemerdekaan, tahun 1949 ‘Slands Plantentiun te Buitenzorg’ berganti nama menjadi Jawatan Penyelidikan Alam, kemudian menjadi Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LLPA) dipimpin dan dikelola oleh bangsa Indonesia, Direktur LPPA yang pertama adalah Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Pada waktu itu LPPA punya 6 anak lembaga, yaitu Bibliotheca Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, Herbarium Bogoriensis, Treub Laboratorium, Musium Zoologicum Bogoriensisi dan Laboratorium Penyelidikan Laut. Untuk pertama kalinya tahun 1956 pimpinan Kebun Raya dipegang oleh bangsa Indonesia yaitu Sudjana Kasan menggantikan J. Douglas.

Pada saat kepemimpinan tokoh-tokoh itu telah dilakukan kegiatan pembuatan katalog mengenai Kebun Raya Bogor, pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung dari Amerika, kayu besi dari Palembang dan Kalimantan), dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu: Herbarium, Museum, Laboratorium Botani, Kebun Percobaan, Laboratorium Kimia, Laboratorium Farmasi, Cabang Kebun Raya di Sibolangit, Deli Serdang dan di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Perpustakaan Fotografi dan Tata Usaha, Pendirian Kantor Perikanan dan Akademi Biologi (cikal bakal IPB).

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut data spesies tanaman yang diamati berdasarkan kuliah lapang yang dilakukan di Kebun Raya Bogor.

  1. Nama lokal      : Kempas

Nama jenis      : Kompassiana excelsa

Famili              : Fabaceae (kelompok polong-polongan)

Ciri khas            : Daun majemuk ganda 2, bentuk daun oblong, tata daun alternate dengan anak daun opposite, plagiotropik, memiliki banir menyebar yang biasnya digunakan tempat bertengger beruang madu (Helactos malayanus) untuk mencari madu.

Keterangan      : strata A, jenis dilindungi

  1. Nama lokal      : Merbau

Nama jenis      : Intsia bijuga

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Daun berseling, bersirip genap dengan 2-4 pasang anak daun, stipula bertautan di pangkal, membentuk sisik yang menetap, anak daun opposite, memiliki banir papan yang kecil, kulit batang yang terlihat seperti “bopeng”.

Kegunaan        : Kayunya merupakan kayu kuat sehingga sering digunakan untuk konstruksi bangunan

Keterangan     : Asal Jawa Tengah- G. Merbabu, dominan di hutan Papua, strata B, tinggi ± 30 m

 

  1. Nama lokal      : Angsana

Nama jenis      : Pterocarpus indicus

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : bergetah merah, ­daun majemuk, Root grapting (persambungan akar) pada angsana merupakan jenis perakaran khas tanaman Hutan Tropik yang berfungsi mengefisiensi penyerapan air

Kegunaan        : Banyak dijumpai di pinggir jalan sebagai peneduh.

Keterangan       : Pohon ini termasuk pohon tua yang di tanam di Kebun Raya Bogor, yakni pada tahun 1844.

  1. Nama lokal      : Sindur

Nama jenis      : Sindora siamensis

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Batangnya tidak berbanir dan paling tinggi diantara fabaceae lainnya ±40 m, batangnya ada garis-garis seperti gelang, buah legum, merekah bulat gepeng berduri

Kegunaan        : Kayu sindur bercorak menarik banyak digunakan untuk perabotan berualitas tinggi, panel dan keperluan interior lainnya, kayu sidur berwarna seragam digunakan unuk konstruksi ingan di dalam ruagan, misalnya kerangka pintu dan jendela, langit-langit, peraotan rumah tangga dan katu lapis. Kayu sindur juga digunakan untuk lantai. Beberapa jenis bahkan menghasilkan kayu berat berkualitaas tiggi yang cocok untuk konstruksi berat di luar ruangan, banyak jenis menghasilkan minyak kayu yang digunkan untuk bahan cat, kerts bening, campuran minyak lain, untuk penerangan dan parfum. Minyak kayu ini juga obat reumatik dan penyakit kulit. Minyak bijinya kadang untuk pengganti gambir

Keterangan      : Strata A

  1. Nama lokal      : Trembesi/ Ki Hujan

Nama jenis      : Samanea saman

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Tidak berbanir, simpodial, daun majemuk

Kegunaan        : Sebagai tanaman peneduh, digunakan untuk penghijauan

Keterangan      : Spesies yang bersifat invasif, merupakan penyerap karbon tertinggi

  1. Nama lokal      : Kedawung

Nama jenis      : Parkia timoriana

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Daun majemuk ganda 1, mempunyai banir yang tidak terlalu besar

Kegunaan       : Buahnya untuk obat pencernaan, kayunya untuk konstruksi banguna, buahnya bisa dibuat kopi tetapi berbau petai, makanan primata

Keterangan     : Merupakan buah polong, Strata A, tumbuh di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, kondisi populasi sekarang sedikit

  1. Nama lokal      : Saga

Nama jenis      : Adenatera monoliana

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Daun majemuk ganda 1, simpodial, Berbiji merah dan kering

Kegunaan        : Obat sariawan

Keterangan      : –

 

  1. Nama lokal      : Ampupu

Nama jenis      : Eucalyptus alba

Famili              : Myrtaceae

Ciri khas          : Kulit batang mengelupas, daun beraroma harum jika diremas, daun dapat disuling, kayu berwarna putih, batangnya berpilin karena terkena penyakit

Kegunaan        : Konstruksi bangunan

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Pandan

Nama jenis      : Pandanus conoides

Famili              : Pandanaceae

Ciri khas          : Daun lanset, batang berduri,

Kegunaan        : Obat Kanker, HIV, daunnya untuk tikar dan penyedap

Keterangan      : Biasa tumbuh di pantai

 pandanus conoides2

Gambar 1. Pandanus conoides

  1. Nama lokal      : Gayam

Nama jenis      : Inocarpus fagiferus

Famili              : Fabaceae

Ciri khas          : Berdaun tunggal, tepi daun berduri, simpodial, plagiotropik, batang bergelombang, berakar tunjang

Kegunaan        : Sebagai tanaman peneduh

Keterangan     : Buahnya bisa dimakan dengan dibuat menjadi kripik, habitat di pantai berpasir sampai dengan pegunungan

  1. Nama lokal      : Pedada

Nama jenis      : Sonneratia caseolaris

Famili              : Sonneratiaceae

Ciri khas          : tangkai daun merah muda, akar napas di air,bunganya persisten, adaptif terhadap air tawar, tinggi ±20 m

Kegunaan        : –

Keterangan      : Secara alami tumbuh di hutan mangrove,

  1. Nama lokal      : Benuang laki

Nama jenis      : Duabanga moluccana

Famili              : Sonneratiaceae

Ciri khas          : tangkai daun berbentuk persegi, pertulangan daun marginal vein, opposite, interpetiolaris stipule

Kegunaan        : –

Keterangan      : Tersebar di NTT, tumbuh di Gunung Rinjani dan Tambora

  1. Nama lokal      : Sempur

Nama jenis      : Dillenia pteropoda

Famili              : Dilleniaceae

Ciri khas          : memiliki banyak cabang., daunnya mengelompok di ujung, banyak terdapat bekas daun penumpu, tepi daun bergerigi, tulang sekunder langsung ke tepi daun, dan batang serta rantingnya berbuku.

Kegunaan        : Makanan monyet

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Asoka

Nama jenis      : ixoria sp.

Famili              : Rubiacae

Ciri khas          : Daun opposite, interpetiolaris stipule

Kegunaan        : Untuk obat

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Bisbul

Nama jenis      : Diospyros philippensis

Famili              : Ebenaceae

Ciri khas          : Simpodial, berbatang hitam namun berbeda dengan kayu hitam, daun tunggal, alternate, bentuk tajuk membulat

Kegunaan        : sebagai tanaman peneduh

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Salam

Nama jenis      : Syzygium polyanthum

Famili              : Myrtaceae

Ciri khas          : Daun yang sudah tua berwarna merah

Kegunaan        : penyedap

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kelapa

Nama jenis      : Cocos nucifera

Famili              : Arecaceae

Ciri khas          : Batangnya silindris

Kegunaan        : Multi fungsi, batanng, daun, buah dapat dimanfaatkan

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kelapa sawit

Nama jenis      : Elaeis guinensis

Famili              : Arecaceae

Ciri khas          : Daunnya majemuk ganda 1 , ada pelepahnya

Kegunaan        : Buahnya dijadikan minyak kelapa sawit, batangnya untuk kayu fiber

Keterangan     : Berasal dari Afrika, dikembangkan secara besar-besaran di Sumatera dan Kalimantan

  1. Nama lokal      : Sagu

Nama jenis      : Metroxylon sagu

Famili              : Arecaceae

Ciri khas          : Monocarpic (sekali berbunga seumur hidup), bunga termnalia, jarak berbunga 1-10 tahun

Kegunaan        : Batangnya dijadikan sebagai sagu, makanan pokok

Keterangan      : Biasanya di rawa Indonesia bagian timur

  1. Nama lokal      : Lontar

Nama jenis      : Borassus flabellifer

Famili              : Arecaceae

Ciri khas          : Berdaun menyirip

Kegunaan        : Buah diambil airnya untuk diminum, pada jaman dahulu daun dimanfaatkan senagai kertas

Keterangan      :  –

  1. Nama lokal      : Pinang

Nama jenis      : Areca pinanga

Famili              : Arecaceae

Ciri khas          : Batangnya silindris

Kegunaan        : Untuk panjat pinang

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Ulin / Ki Besi

Nama jenis      :  Eusideroxylon zwageri

Famili              : Lauracee

Ciri khas          : Monopodial, kayu besi, ujung daun merah,banyak cabang dengan batang utama tetap terlihat

Kegunaan        : Untuk bantalan rel keret api, atap sirap

Keterangan      : Sudah jarag ditemukn di alam, ditemukan di Kalimantan dan Sumatra

  1. Nama lokal      : Ki Putri

Nama jenis      : Podocarpus neriifolius

Famili              : Podocarpaceae

Ciri khas         : Buah tertutup epimatum dan gymnospermae, ada filoklen yaitu ranting yang berkembang menjadi daun

Kegunaan        : –

Keterangan      : Tumbuh di sub-pegunungan

  1. Nama lokal      : Araucaria

Nama jenis      : Araucaria hunsteinii

Famili              : Araucariaceae

Ciri khas          : Kulit batang mengelups ke samping, monopodial

Kegunaan        : Tanaman hias, pohon peneduh

Keterangan      :  Banyak terdapat di Papua

  1. Nama lokal      : Araucaria

Nama jenis      : Araucaria cunninghamii

Famili              : Araucariaceae

Ciri khas         : Kulit batang mengelups ke samping, monopodial batang menghasilkan getah, sisik ujungtajam, biji bersatu dengan sisik berbentuk kerucut

  1. Nama lokal      : Pinus/ Tusam

Nama jenis      : Pinus caribaea

Famili              : Pinaceae

Ciri khas         : Kulit batang mengelupas kotak, dalam satu vesikel terdapat tiga daun, daunnya tebal dan hijau

Kegunaan        : Getahnya menghasilkan produk gondorukem

  1. Nama lokal      : Damar Pilau

Nama jenis      : Agathis borneensis

Famili              : Araucariaceae

Ciri khas          : Kulit mengelupas batangnya bulat, mudah terbakar

Kegunaan        : Jika disadap kulit batangnya menghasilkan produk kopal

Keterangan      : Berasal dari Maluku

  1. Nama lokal      : Karet Kerbau

Nama jenis      : Ficus elastica

Famili              : Moraceae

Ciri khas          : Bergetah putih, kunat cincin, alternate

Kegunaan        : Sumber Getah karet

Keterangan      : Habitusnya pohon strangler

  1. Nama lokal      : Matoa

Nama jenis      : Pometia pinnata

Famili              : Sapindaceae

Ciri khas         : Buahnya seperti kelengkeng, daging uah bening,ujung dan berwarna merah, berdaun majemuk dan tidak terdapat anak daun di ujung ranting

Kegunaan        : Kayunya untuk konstruksi bangunan

Keterangan     : Matoa biasa juga disebut dengan rambutan Irian karena banyak dijumpai di daerah tersebut. Akan tetapi saat ini sudah banyak ditemukan di tanam di daerah-daerah lain di Indonesia.

  1. Nama lokal      : Rambutan

Nama jenis      : Nephelium lappaceum

Famili              : Sapindaceae

Ciri khas          : Monopodial, alternate, majemuk, pohonnya tidak tinggi

Kegunaan        : Buahnya dapat dikonsumsi

  1. Nama lokal      : Leci

Nama jenis      : Litchi chinensis

Famili              : Sapindaceae

Ciri khas          : Majemuk ganda 1, paripinate, simpodial

Kegunaan        : Buah dapat dikonsumsi

Keterangan     : Leci merupakan tanaman tertua yang ada di Kebun Raya Bogor. Tanaman ini ditanam pada tahun 1823

  1. Nama lokal      : Bintaro

Nama jenis      : Cerbera manghas

Famili              : Apocynaceae

Ciri khas         : Alternate, mengumpul di ujung (terminalia) simpodial, mahkota seperti corong, bergetah putih

Kegunaan       : Sebagai tanaman peneduh, buahnya dimanfaatkan menjadi bahan kerajinan tangan jika sudah kering

Keterangan      : Tumbuh alami di hutan pantai

  1. Nama lokal      : Jelutung

Nama jenis      : Diera costulata

Famili              : Apocynaceae

Ciri khas         : Bergetah putih, daunnya verticillate, monopodial, silindris, silindris, besar, tinggi, tidak berbanir, buah seperti tanduk

Kegunaan        : Getah untuk permen karet

Keterangan      : Strata A

  1. Nama lokal      : Pulai

Nama jenis      : Alstonia scholaris

Famili              : Apocynaceae

Ciri khas          : verticillate, berbanir bunga kering

Kegunaan        : Sebagai tanaman peneduh, diambil getahnya

Keterangan      : Habitat di hutan

  1. Nama lokal      : Nyantoh

Nama jenis      : Palaquium rostratum

Famili              : Sapotaceae

Ciri khas          : Bergetah putih, memiliki banir segitiga, batangnya besar bersilindir

Kegunan          : Getah perca untuk golf

  1. Nama lokal      : Sawo Kecik

Nama jenis      : Manilkara kauki

Famili              : Sapotaceae

Ciri khas          : Terminalia brancing, simpodial kulit batang berwarna hitam

Kegunan         : Kayu untuk patung di Bali, sebagai tanaman peneduh, buah dapat dikonsumsi

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Tanjung

Nama jenis      : Mimusops elengi

Famili              : Sapotaceae

Ciri khas          : Bergetah putih, daging buah tipis

Kegunan          : Buah dapat dikonsumsi

  1. Nama lokal      :  Sawo duren

Nama jenis      : Chrysophyllum cainito

Famili              : Sapotaceae

Ciri khas         : Bergetah putih, daun bagian bawah berwarna emas, hampir sama dengan duren

Kegunaan        : Buah dapat dikonsumsi

  1. Nama lokal      : Coklat

Nama jenis      : Theobroma cacao

Famili              : Sterculiaceae

Ciri khas         : Buah muncul pada batang utama dan cabagnya, buahnya berwarna merah dan hiju

Kegunaan        : Dikonsumsi menjadi makanan, minuman dan obat

Keterangan     : Theobroma berarti: “makanan untuk Dewa”, sehingga coklat dikenal sebagai salah satu bahan baku pembuat makanan Para Dewa

  1. Nama lokal      : Bayur

Nama jenis      : Pterospermum javanicum

Famili              : Sterculiaceae

Ciri khas          : Bardaun kasar tidak berbulu

Kegunaan        : Kayunya dimanfaatkan

Keterangan      : Tumbuh alami di dekat pantai

  1. Nama lokal      : Nyamplung

Nama jenis      : Callophyllum inophyllum

Famili              : Clusiaceae

Ciri khas          : Daun tebal dan kaku, ujung daun membulat, ranting berbentuk kotak

Kegunaan        : Bahan biodiesel

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kola

Nama jenis      : Cola accuminata

Famili              : Sterculiaceae

Ciri khas          : Tumbuh di Afrika

Kegunaan        : Biji untuk minuman cocacola dan mengandung kafein

Keterangan      : Tumbuh di Huta Tropika Afrika

  1. Nama lokal      : Bouea

Nama jenis      : Bouea oppositifolia

Famili              : Anacardiaceae

Ciri khas          : Bergetah hitam, biasanya poison, daun tunggal, simpodial

Kegunaan        : –

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Rengas

Nama jenis      : Gluta wallichii

Famili              : Anacardiaceae

Ciri khas          : Bergetah hitam, monopodial

Kegunaan        : Kayunya untuk konstruksi bangunan

Keterangan      : Getahnya beracun, Ditanam pada tahun 1866

  1. Nama lokal      : Kenari

Nama jenis      : Canarium zeylanicum

Famili              : Burseraceae

Ciri khas         : Daun yang imparipinate, yakni di ujung ranting terdapat anak daun dan bersifat resinus (harum).

Kegunaan        : Kayunya untuk konstruksi bangunan, bijinya untuk kerajinan

  1. Nama lokal      : Sempur

Nama jenis      : Dillenia pteropoda

Famili              : Dilleniaceae

Ciri khas         : Memiliki banyak cabang, daunnya mengelompok di ujung, banyak terdapat bekas daun penumpu, tepi daun bergerigi, tulang sekunder langsung ke tepi daun, dan batang serta rantingnya berbuku.

Kegunaan       : –

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Resak

Nama jenis      : Vatica pauciflora

Famili              : Dipterocarpaceae

Ciri khas         : Tunggal, alternate, daunnya tebl, kaku, berbintik hijau tersusun di petulangan sekundernya.

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Meranti merah

Nama jenis      : Shorea pinanga

Famili              : Dipterocarpaceae

Ciri khas         : Tangkai berbulu, permukaaan daun berbintikk putih, daun tebal, kaku, berdaun penumpu, tunggal, alternate

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Meranti tembaga

Nama jenis      : Shore leprosula

Famili              : Dipterocarpaceae

Ciri khas          : Banir besar, kulit batangnya halus, dan berwarna putih

Kegunaan        : Kayu untuk konstruksi bangunan dan furniture

Keterangan      : Terdapat sarang lebah

  1. Nama lokal      : Meranti

Nama jenis      : Shorea guiso

Famili              : Dipterocarpaceae

Ciri khas          : Banir besar

Kegunaan        : Kayu untuk konstruksi bangunan dan furniture

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kamper

Nama jenis      : Dryobalanops aromatica

Famili              : Dipterocarpaceae

Ciri khas          : Perbedaannya dengan kamper tanduk adalah daun kamper ini lebih kecil dari pada kamper tanduk, berbanir kecil, getah putih bening

Kegunaan        : Kayu untuk konstruksi bangunan, kamper, obat reumatik, obat luka luar

Keterangan      : Strata A

  1. Nama lokal      : keluarga beringin

Nama jenis      : Ficus albipila

Famili              : Moraceae

Ciri khas          : Berbanir besar, kayu berwarna khas

Kegunaan        : Kayu untuk konstruksi bangunan

Keterangan      : Yang dijadikan pohon jodoh bersama pohon meranti

  1. Nama lokal      : Nangka

Nama jenis      : Artocarpus heterophyllus

Famili              : Moraceae

Ciri khas          : bergetah putih, memiliki kunat cincin

Kegunaan        : Buah dapat dikonsumsi, kayu untuk konstruksi bangunan

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Karet

Nama jenis      : Hevea brasiliensis

Famili              : Euphorbiaceae

Ciri khas          : Daun majemu menjari, daunnya terminallia

Kegunaan        : Penghasil getah dan karet utama

Keterangan       : Berasal dari Brazil, di Indonesia banyak ditemukan di Kalimantan dan Sumatra

  1. Nama lokal      : Cemara Aru

Nama jenis      : Casuarina sumatrana

Famili              : Casuarinaceae

Ciri khas          : Daun sisik, berbuku-buku

Kegunaan        : Pohon peneduh

Keterangan      : Tumbuh di dekat pantai

  1. Nama lokal      : Kenari

Nama jenis      : Canarium zeylanicum

Famili              : Burseraceae

Ciri khas         : Kenari memiliki daun yang imparipinate, yakni di ujung ranting terdapat anak daun dan bersifat resinus (harum)

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kayu manis

Nama jenis      : Cinnamomum burmanii

Famili              : Lauraceae

Ciri khas          : Pertulangan daun membusur, tunggal, alternate

Kegunaan        : Kulit batang dimanfaatkan dalam bumbu masakan

  1. Nama lokal      :  Puring

Nama jenis      : Cordilin spp.

Famili              : Euphorbiaceae

Ciri khas          : Bunga harum, tunggal, onopodial, batangnya tidak terlalu tinggi

Kegunaan        : Sebagai tanaman hias

  1. Nama lokal      : Teratai

Nama jenis      : Victoria amazonica

Famili              : Nymphaceae

Ciri khas         : Daun besar, batang berduri, diameter ± 1 m, pinggir daun dan bawah daun berduri, buah di tengah tulang daun merah

Kegunaan        : Sebagai tanaman hias

Keterangan      : Teratai terbesar berasal dari Brazil

  1. Nama lokal      : Burahol

Nama jenis      : Stelechocarpus burahol

Famili              : Annonaceae

Ciri khas          : Plagiotropik, kulit tidak mudah patah, monopodial

Kegunaan        : Buah dapat dikonsumsi untuk pengharum tubuh

Keterangan      : Tersebar di Jawa Timur

  1. Nama lokal      : Durian

Nama jenis      : Durio zibethinus

Famili              : Bombaceae

Ciri khas         : Permukaan daun bagian bawah erwarna perak, cauliflori, alternate, batangnya tinggi, buah berduri

Kegunaan       : Buah dapat dikonsumsi

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Kepuh

Nama jenis      : Sterculia foetida

Famili              : Sterculiaceae

Ciri khas          : Daun majemuk menjari, buahnya folikel

Kegunaan        : –

Keterangan      : –

  1. Nama lokal      : Manggis

Nama jenis      : Garcinia sizygiifolia

Famili              : Clusiaceae

Ciri khas          : Daunnya mirip jambu-jambuan

Kegunaan        : Buah dapat dikonsumsi

BAB IV

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kuliah lapang yang telah dilakukan, maka telah telihat secara langsung berbagai jenis pohon dengan berbagai famili. Kebun Raya Bogor tempat observasi dilakukan memiliki banyak  spesies  dari berbagai famili, baik tumbuhan eksitu maupun tumbuhan insitu. Kebun Raya Bogor hanya sebagian kecil saja dari Indonesia. Jika dilihat secara keseluruhan wilayah Indonesia, maka sungguh banyak keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Sehingga matakuliah Dendrologi sangat penting sebagai ilmu dasar kehutanan untuk mengenal pohon, sehingga dapat menunjang ilmu kehutanan lainnya dalam mengelolaan hutan.

5.2 Saran

Kuliah lapang yang dilakukan secara lansung di Kebun Raya Bogor sangat membantu mahasisa mengenal morfologi pohon secara langsung, tidak hanya teori di kelas. Penulis menyaranan agar kuliah lapang tidak hanya dlkukan di akhir smester saja, tetapi dilakukan pula kuliah lapang di sekitar kampus IPB. Saran dalam pelaksanaan sebaiknya dosen pembimbing memberikan pengarahan yang lebih jelas dan  terperinci serta pendislipinan waktu yang lebih diperhatikan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Kencana, Ira Puspa dan Nurhayati Hadi Susilo Arifin. 2010. Studi Potensi Lanskap Sejarah untuk pengembangan wisata sejarah di Kota Bogor. Jurnal Lanskap Indonesia Vol 2 No.1.

LAMPIRAN

Dokumentasi Kuliah Lapang

intsia bijugaGambar 2. Intsia bijuga

sindora siamensis

sindora siamensis2sindora siamensis

Gambar 3. Sindora siamensis
biji saga        Gambar 4. Biji Saga

victoria amazonica   Gambar 5. Victoria amazonica

buah gayam                 Gambar 6.Buah Gayam

krb bersama

Gambar 7. Foto Bersama

Dokumentasi : Yulizar Ihrami Rahmila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s