Pekarangan yang Menghilang

Bogor, 25 november 2012 pukul 22:56

Beberapa waktu lalu, aku belajar mengenai pekarangan, mungkin agak terdengar menyimpang dari jurusan ku kuliah. Tapi ternyata ad hubungannya. Pekarangan menjadi suatu hal yang unik karena fungsinya sebagai tempat sosial tidk lagi terjadi, terutama di kota-kota besar. Aku sedikit mengulik tentang apa yang ku lihat selama ini semenjak ku tingal di kota yang isa disebut kota besar. Aku pernah tinggal di jabodebek (baca:jabodetabek), yang memiliki kekhasan tersendiri. Tetapi ternyata diantara kota-kota itu memiliki kesamaan dalam hal pekarangan. Pekarangan di kota besar menjadi sesuatu aset yang mahal, karena biasanya yang memiliki pekarangan atau kalau di kota-kota besar disebut halaman rumah ini adalah orang-orang berpunya dengan lahan tanah yang masih dimanfaatkan dari bangunan rumah yang ada. Sedangkan di kota-kota besar, setiap celah daratan menjadi sorotan untuk di asapal dan dibangun semen diatasnya atau bangunan di atasnya. Mata orang kota “gatel” jika melihat sebidang lahan menganggur, dan orientasinya bukanlah untuk dijadikan tempat pertanian atau dalam hal ini pekarangan, tetapi dibangun mnjadi sebuah kontrakan. Tak dapat disalahkan pula jika dilihat dari sisi ekonomi. Kareana kontrakkan lebih menjanjikkan untuk menghasilkan uang secara lebih cepat. Kota besar menjadi kawasan padat penduduk yang padatjuga dengan bangunan. Kembali kepada pekaranga. Pekarangan menjadi suatu simbol kekayaan seseorang karena sebagian besar yang memiliki pekarangan adalah orang yang memiliki rumah besar dan masih memiliki lahan lebih yang tak dibangun semen dan batako. Namun, pekarangan ini tertutup, sehingga fungsi sosialnya tak berjalan. Padahal, pekarangan di desa-desa menjadi tempat favorit berkupulnya para tetangga, saling bertukar informasi. Salaig membicarakan apa yang mereka lakukan. Keadaan mereka dan saudara-saudara mereka. Bahkan tentang negeri tercinta ini. Dpekarangan pada perumahan kaya di pagar tinggi, hingga muncul penasaran bagi setiap ornag yang melewati pekarangan bertembok itu. Pekarangan tak lagi menjadi simbol ebersamaan. Ia tenggelam dalam ke-individualisme-an seorang warga yang bangga dnegan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s