Kerunyaman yang Akan Disudahi

Bogor, 25 november 2012 pukul 22:34

Ku agak bimbang rasanya sekarang. Merasa bosan dengan segalanya. Menghilangan jejak dari rasa tanggung jawab. Menonton hal-hal yang seharusnya tak perlu. Mendengar hal-hal yang seharusnya bisa kutanggai dengan positive. Tapi rasanya kemarin aku kalut. Ingin merombak semua yang pernah ku lakukan. Hingu runyamnya lekukan di kepala semakin menggrogotiku di malam lusa kemarin. Entah lelah karena tidur terlalu “pagi” (baca: begadang).

Hingga pagi kemarin sakit kepala ku menghilang. Ku coba atur hidupku lagi untuk mencoba menyelesaikan pekerjaanku dan konsekuensi ku di tiga tempat dalam ewaktu yang bersamaan sekaligus. Bicara tentang alam dan hutan, bicara tentang nuklir dan bicara tentang musik. Dan rasanya ku gagal diketiganya. Tapi rasanya bukan ketiganya. Hanya satu yang gagal. Karena dua lainnya adalah kemenanganku yang terunda. Satu yang gagal ini adalah cara ku pergi dari tanggung jawab. Maaf, bukan “pergi” kata yang teopat, tetapi “menyerahkan”. Sore pun berlalu. Dan mala datang dengan menunggu tanggung jawabku kembali. Dan aku menyerah untuk berpartisipasi. Karena saat itu tak hanya kepala yang digerogoti leh kerunyaman, tetapi juga isi perut ini sudah mulai runyam. Tapi sayangnya, ku tak segera memperbaiki kerunyaman, aku malah menyia-nyiakan waktu. Ku harap akan menjadi suatu hiburan, tapi ternyata yang kulakukan malah menambah kerunyaman dikepala.

Dan malam kemarin itupun aku lupa akan tanggungjawabku yang lain. Sempat ku menangis karena kebodohan ini dan mulai menyalahkan diri. Kau tahu, mereka tertawa. Entah kenapa ku benci mereka tertawa, mungkin karena kerunyaman di kepala dan kegagalanku. Dan ku laksanakan tanggungjawab itu dengan sedikit tetes air mata. Sesekali mengusapnya. Mencoba menyembunyikannya. Ku teangkan diri dengan berserah. Meyakinkan diri untuk tidak lagi seperti ini. Tak bertanggungjawab.

Hinga pagi tadi menjelang. Kkerunyaman dikepala menghilang. Semangatku tuk menyelesaikan tanggungjawabku ku mantapkan. Mendeklarasikan untuk mengerjakan semuanya yang tertunda. Mengerjakan semuanya yang dituntut. Sedikit demi sedikit ku lakukan dengan semangat seperti waktu aku berada di kawasn ini. Ku lakukan prinsip kerjakan sekarang juga. Hingga ku pergi keluar untuk satu per satu menyelesaikan “lakukan sekarang juga”. Hingga ku kembali, bukan perbaikan yang ku lakukan. Aku memperparah diri. Tanpa terasa senja menjelang dan malampun datang sampai pada waktu ini, belum banyak yang ku kerjakan. Penyesalan ku timbul lagi Walau suara penyemangat mulai berkembang. Tapi ku tak menyerah. Kan ku mulai kerjakan satu persatu yang dapat ku kerjakan sekarag juga. Biarkan kata-kata yang tertuang ini tak kau pahami. Setidaknya ku berusaha mengurangi kerunyaman dalam diri dengan menuangkannya dalam deretan huruf ini. Terserah penilaian yang timbul. Setdaknya aku sedikit lega sekarang. Semoga ini memunculkan kembal energi positifku yang beberapa waktu kemarin hilang. Entah karena apa ia menghilang. Sudahlah. Lanjutkan hidupmu, qin. Banyak yang menunggu untuk kau lalui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s