Nonton Kick Andy “Fotografi Jurnalistik”

Bekasi, 26 juli 2012

Di sela-sela liburan ini ku dapetin kesempatan buat jadi peserta di acara Kick Andy. Dan alhamdulillah banget, temanya tentang fotografi jurnalistik, nggak disangka-sangka ku dapet kesempatan yang pas banget sama passion ku. Menjadi cita-citaku memang menjadi seorang fotografer jurnalistik, yang bisa memberikan fakta dalam sebuah gambar, menjadikan foto (gambar visual) sebagai media penyampaian informasi. Memanag saat ini ku menjadi fotografer di media jurnalistik di IPB, yaitu koran kampus IPB. Tetapi ku masih ingin menambah ilmu dan pengalaman, karena yang kupunyai masih sedikit sekali.

O ya balik lagi tentang pengalamanku ke acara Kick Andy. Aku dan teman-teman APD (tempat tinggalku di Bogor) diajak oleh kakak tingkat untuk mengikuti acara tersebut bersama rombongan teman-teman dari UIN. Alhasil ada 5 orang dari APD yang ikut, mereka Tata Vida, Teh Leli, Kak Hesti, Nadia, Ika dan aku (seorang qiqin). Aku berangkat sendiri dari rumah. Paginya dari APD , jam 9 berangkat dan sekiatar jam setengah 12 sampai di rumah. Biasa, perjalanan dari Bogor menuju rumah ku habiskan waktu dengan terlelap. Karena ku fikir, nanti pasti pulangnya malam, jadi biar di studio nggak keliatan ngantuk. Tidur disepanjang perjalanan jadi suatu cara buat mengantisipasi muka ngantuk di studio. Nggak lucu kan, kalo nanti pas disorot kamera dan masuk tivinya, mulut ini lagi menguap.

Sesampainay di rumah, langsung mandi sholat dan berbenah diri. Dresscodenya pake baju batik, tapi sengaja ku berangkat nggak langsung pake baju batik. ku pake kaos dulu, baju batiknya ditaro di tas. ini mengantisipasi supaya bajunya nggak kotor dan bau keringetan duluan sebelum sampai tujuan. sekedar info, baju batik itu adalah baju batik bapakku sewaktu baru memiliki satu anak, kaka lelaki ku yang pertama (dia alumni UIN juga), dan baju itu adalah baju kembaran bapak dengan kakakku ini. Batiknya dibuat sendiri oleh tangan nenekku, jadi bisa dibilang baju ini unlimited. Cuma diproduksi dua buah di dunia ini. Bangga pake batik ini. Karena tidak ada tiganya.

Ok sampe di UIN sekitar jam setengah 3, terus berangkat rombongan ke Metro TV. Sampailah di kantor Metro TV, sore sekitar jam 4 atau jam setengah 5. Lupa nggak liat jam. Disana kami dapet makanan buka puasa gratis. Seselesainya sholat maghrib kita naek kelantai dua, kalo nggak salah, dan itu berdesakan. Untungnya ada pak satpam, yang membuatnya menjadi tertib, jam 7 malem lewat sekian, udah duduk di dalam studio. Beberapa kali kami berindah tempat duduk. Cari posisi yang strategis.

Oh ya, nggak disangka, ternyata temanya tentang fotografi jurnalistik. Ku tahu tema ini saat di UIN. Dan ku mulai mengandai-andai, suatu saat nanti qiqin lah yang jadi tamu pembicara di acara-acara seperti ini. Rasanya nggak nyesel bela-belain dari bogor ke bekasi terus ke jakarta buat dapetin pengalaman ini. Ketemu sama fotografer-fotografer handal dari neger ini, tapi sayangnya nggak ada sesi tanya jawab dan ngga sempat ngobrol-ngobrol sama mereka. Ada tiga sesi pembicara, sesuai klasifikasi karya mereka.

Seingatku pada sesi pertama adalah fotografer yag mempunyai karya luarbiasa dan menang berbagai penganugrahan. Beberapa diantaranya yang ku ingat adalah Kemal, yang memotret gunung merapi dan dari karyanya ini dia menang world press photo, pengalaman nya dalam memotret foto tersebut di ceritakan disini. Tak kalah ada fotografer dari media indonesia ya kalo nggak salah.*(maaf ya kalo salah,maaf mas lupa namanya), beliau memotret tentang evakuasi korban gunung merapi yang terbakar, pengalamannya pun yang nggak kalah membahayakan.  Yang terakhir ada bapak *(aduh, lupa lagi namanya. Maaf ya pak) fotografer dari Jawa pos *(lagi-lagi kalo nggak salah), yang berhasil memotret kejadian sebuah kendaraan besar TNI yang mengangkut supporter bonex dan hampir terguling. Ada ironi yang bapak ini coba informasikan, bahwa TNI yang terkenal disiplin bisa mengendaraikendaraan yang berjubel suppiorter bonex, dan pesan dari baak ini adalah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, seperti tergambar dalam foto ini supporter terlalu berlebihan dalam mengapresiasikan kebahagiaanya, dan kendaraan yang berlebihan muatan

Di sesi pembicara kedua ni mengisahkan tentang foto yang menggambarkan betapa masih perlu banyak introspeksi pada diri hukum dan pejabat di negeri ini. Foto pertama adalah foto Gayus yang berkedapatan menonton pertandingan tenis di Bali. Awalnya sang fotografer tidak ditugaskan untuk memotret ini. Knalkan sama Gayus?. OK, nggak perlu dijawab. Hehe…balik lagi ke pembicaraan,  sang fotografer ini ditugaskan untuk meliput pertandingan tenis di Bali tersebut. Namun, terdengar kabar dari teman-teman wartawan lain , bahwa ada orang yang mirip Gayus di tempat tersebut. Balik lagi ke sifat nya wartawan yang selalu ingin tahu, dan coba membuktikan, beliau mencoba melihat penonton satu persatu per baris tempat duduk dengan kameranya. Tapi, tetep ngelaksanaain tugas utamanya. Siapa tahu Gayus itu bener ada di antara penonton ini. Dan setelah satu persatu perbaris dia lihat ada yang mirip dengan Gayus. Eng… ing… eng… *(bayangkan tulisan ini bernada ya.. hehe). Langsung lah diambil gambar orang mirip Gayus ini. Di akhir pertandingan tenis itu, rekan reporter dari fotografer ini mencoba mengklarifikasi ke seorang ibu yang duduk di samping Gayus, dan terlihat sekali bercakap. Tapi setelah ditanyakan, ibu itu mengatakan tidak kenal dengan orang yang disampingnya. Setelah memastikan orang mirip Gayus yang tertangkap kamera menonton tenis di Bali ini hampir 99% dia yakin bahwa ini adalah Gayus. Bagaimana bisa seorang tahanan bisa keluar melancong?. Humh, masih ada saja oknum yang meloloskan Gayus ini sampai bisa menikmati pertandingan tenis di Bali. Di Bali bro.. Oya, sekedar info, kalo fotografer ini sama Gayus dulunya adalah teman satu SMA dengan Gayus. foto yang kedua dari fotografernya Media Indonesia yang mendapati seorang anggota DPR sedang melihat gambar porno di saat sidang berlangsung. Ada-ada saja..

Di sesi pembicaraan terakhir adalah fotografer yang membuat buku “sex  for sale”, berisi foto PSK di 27 kota. Berkisah tentang kemalangan dan Kehidupan PSK yang penuh dengan penderitaan. Karena ini tentang PSK , jadi sebagian besar foto jalanan diambil di malam hari. Dan menurutku ini sangat sulit sekali. Harus ngejaga supaya gambar nggak ngeblur itu susah banget. Belum lagi resiko preman-premannya. Ada dua pendekatan yang beliau lakuin dengan cara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Beresiko banget. Dan yang ia lakukan menjadi tesisnya. Mengenai potret kehidupan PSK. Keren, menaruh sisi akademis pada karya yang dimliki yang digambarkan dalam visual ini.

Akhirnya seperti yang biasa om Andy F. Noya bilang di akhir acara, “buki ini akan dibagikan satu-satu kepada para penonton do studio”. Kami bertepuk tangan gembira. Ini akting. Soalna sebelum acara di mulai om andi bilang kalo mereka nggak ngasih buku. Awalnya agak kecewa. Tapi ya sudahlah, udah ada disini dan dapet pengalaman ketemu sama fotografer-fotografer handal, kapan lagi coba. Tapi ternyata,kita dapet buku beneran.. hehe, ada-ada saja om Andy ini bercandanya. Jadi jangan khawatir, kita dapet buku kok…  acara selesai alhasil pulang malem banget. Untungnya selamet.

Untuk lebih lengkapnya tentang yang ku ceritain di Kick Andy yang ku tonton langsung dari studionya ini, tonton aja Kick Andy 12 agustus jam 13.30 di Metro TV. Ok. Dan cari wajahku disana. Haha.. dan mohon maaf kalo ada sala-salah kata dari yang kutuliskan. Maafkan ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s