Jakarta 485: Keanekaragaman Hayati yang Termarginalkan di Kota Metropolitan

Menjadi suatu yang membanggakan *(sorry kalau ini agak berlebihan) diriku terpilih menjadi salah satu dari 20 orang yang berkesempatan memperoleh pengalaman berharga, yaitu mengikuti BiodiverCity Photo Workshop Jakarta 2012 yang diadakan oleh GIZ FORCLIME bekerjasama dengan Gothe Institute. Kesempatan yang berharga bagiku melihat sosok lain dari Kota Jakarta yang penuh dengan beton dan aspal.

foto bareng di pagi hari kedua setelah mengabadikan flora dan fauna di Suaka Margasatwa Muara Angke
terdaftar ada 20 orang beruntung yang berkesempatan mengabadikan keanekaragaman hayati dan dapet frame bwt di pamerin di goethe institute

Jakarta 485

Pada ulang tahun Jakarta ke-484, aku menuliskan tentang kerunyaman Jakarta dengan masalahnya tentang kaum terpinggirkan. Kini di usianya yang ke-485, aku memperoleh sisi lain Jakarta yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Dibalik keruwetannya akan banjir yang menggenangi Kota Jakarta di musim penghujan, polusi udara dimana-mana, ke-individualisme-an masyarakat Kota Jakarta yang ingin nyaman sendiri dalam mobil atau gedung ber-AC nya dan tidak memikirkan betapa panasnya diluar akibat penggunaan AC yang ikut andil sebagai penyebab efek rumah kaca, dibalik gemerlapnya ibukota dimalam hari yang tidak menyisakan rasa aman bagiku saat perjalanan pulang, kesemrawutan transportasi yang tak kunjung reda, tetapi ternyata DKI Jakarta masih memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dijaga.
Keanekaragaman Hayati yang Tersisa

Tak luput juga Kota Jakarta, kota yang memiliki keanekaragaman hayati berupa 115 jenis burung dari yang kecil seperti burung gereja (Passer montanus), caladi tilik si burung pelatuk yang mungil, sampai burung yang berukuran besar seperti Kowak Malam Kelabu (Nyticorax nyticorax) dan Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogaster) yang berukuran sampai sekitar 84 cm.

pecuk ular asia terbang dilangit jakarta yang tak lagi biru

pecuk ular asia terbang dilangit jakarta yang tak lagi biru

Aku berkesempatan mengabadikan dan menyuarakan serta membuktikan bahwa di kota ini masih ada yang indah. Keanekaragaman hayati yang unik ada di sini. Aku berkesempatan menjadi salah satu dari 20 pendaftar yang terpiih menjadi peserta untuk mengabadikan “BiodiverCity” Jakarta. Kegiatan yang berlangsung dua hari (25-26 April 2012, 27 April 2012 pemilihan foto untuk dipamerkan) tersebut dilakukan di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke dan Taman Margasatwa Ragunan. Berbagai satwa kutemui di sini, mulai dari mamalia, herpetofauna, dan burung ada di sini.

Pada kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke dengan kondisi habitatnya berupa hutan Mangrove di sini ditemukan berbagai burung air yang memiliki ukuran tubuh relatif cukup besar dan burung hutan yang berukuran kecil namun bersuara merdu. Di sini ku melihat kowak Malam kelabu (Nyticorax nyticrax), Cangak Abu (Ardea cinerea), Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogaster), Kareo padi (Amaurornis phoenicurus) *(ku lihat dia berjalan dengan anggun, hmh..cantiknya), Perenjak jawa , Punai Gading (Treron vernans), Caladi tilik (Picoides moluccensis), kuntul (Egretta sp.), serta ku melihat kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Untuk herpetofauna dan serangga, ku melihat capung, ular pucuk, kongkang kolam (Rana chalconata) atau kongkang jangrik *(ku masih bingung buat identifikasi satwa yang ini) dan kongkang gading (Rana eritrhaea). Flora yang menarik dari tempat ini adalah Avicenia alba dan bunga dari Sonnetaria alba yang hanya mekar pada malam hari. masih banyak lagi yang tidak tertangkap kameraku (baca: kamera pinjeman).

Di Taman Margasatwa Ragunan ternyata masih banyak satwa liar kecil yang berkeliaran selain satwa yang dikurung dalam kandang. Satwa yang ku temukan dan berhasil diabadikan *(tapi gambarnya ga terlalu bagus) adalah bajing kelapa, bunglon taman (Calotes versicolor), capung (Tholymis tillagra), lalat hijau/ Metallic green Blow Flies (Chrysomya megacephala), burung tekukur biasa (streptopelia chinensis), dan burung raja udang meninting (Alcedo meninting). ** (mohon maaf kalo salah ketik nama jenisnya, hehe.. masih belajar)

Kondisi Nyata

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah kawasan hutan mangrove di utara Kota Jakarta yang merupakan Kawasan Suaka alam terkecil di Indonesia. Namun, tempat ini memberikan manfaat yang besar bagi keberlangsungan hidup satwa liar dengan menyisakan ekosistem bagi kehidupan satwa liar di Kota Jakarta. Dengan kesadaran yang rendah masyarakat Kota Jakarta akan pentingnya menjaga kebersihan, masalah sampah tak luput dari penderitaan kawasan yang terletak di kota besar ini dengan produksi sampah di Kota Jakarta mencapai 6.000 ton per hari.

Kemirisanku terlihat saat menyusuri Suaka Marga Satwa Muara Angke dengan boat, di pagi itu. Burung berukuran besar beterbangan kesana kemari, mulai beraktifitas pagi itu mencari makan diatas tumpukan sampah yang menjadi daratan tempat mereka berpijak.

Kenapa harus peduli?

Mungkin sebagian dari teman-teman berpikiran tentang manfaat dari mereka semua. Sebagian besar dari kita tidak pernah peduli akan mnfaat burung yang terbang disekitarnya. Sebagian besar dari kita tidak menjadikan itu hal yang istimewa, apalagi di Kota Jakarta ini. Betapakah kalian harus mengetahui bahwa mereka memberikan manfaat bagi kita dalam keseimbangan ekosistem dan lingkungan yang kita diami saat ini.

Masihkah teringat mengenai kasus-kasus ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi beberapa waktu lalu? Ulat bulu meningkat tajam populasinya. Mungkin teman-teman melihat itu sebagai penyebab masalah penyakit gatal-gatal, tetapi bisakah kita lihat penyebab dibaliknya? Akar masalahnya adalah langkanya predator berupa burung dilingkungan tersebut. Kasus lain yang mulai merebak mengenai tomcat, serangga predator yang sebenarnya bermanfaat untuk menjaga hama pertanian milik petani, namun dianggap sebagai musuh karena mulai menyebara ke pemukiman warga. Tomcat itu mulai menyebar karena di habitatnya, lahan pertanian, sudah tidak lagi menyediakan makanan baginya. Makanan mereka berupa hama sudah dibasmi oleh zat-zat kimiawi dari pestisida. Semua kembali lagi mengingatkan kita kepada pelajaran IPA dimasa duduk di Sekolah dasar yang mengeajarkan mengenai rantai makanan.

Apakah teman-teman berpikiran seperti ini sebelumnya? Jika belum, mulailah dari sekarang. Bahwa flora dan fauna ini memberikan manfaaat bagi kita. Mencoba mensyukuri dan merawat anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan peka terhadap lingkungan kita. Selamat Ulang tahun Jakarta. Ibukota negara Indonesia dimana Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang dikenal sebagai Megabiodiversity Country. Semoga kota ini bisa merefleksikan Indonesia dan kami bisa bersikap lebih baik pada lingkungan.

Keep green style, keep positive thingking (POT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s