JAKARTA KOTA YANG RENTA

Gambar ini di ambil di salah satu sudut di Kota Tua, Jakarta Utara. Tiga pemuda yang mungkin adalah pengamen di lokasi tersebut beristirahat di jendela*(kayak burung kakak tua?) salah satu gedung yang berada di sebelah kiri museum fatahillah (baca: nggak tau gedung apa itu). Dengan nyamannya mereka tidur di ketinggian melebihi tinggi gerobak mie ayam yang berada di sampingnya. Padahal keadaan sangat ramai, karena kebetulan di hari sabtu itu sedang ada rangkaian acara ulang tahun Jakarta. Pemandangan ini bukan hal yang baru ditemukan di ibukota negara kita yang tercinta. Bahkan bisa lebih ekstrem dari ini. Mulai dari pengemis yang menengadahkan gelas kosong air mineral sambil duduk tertidur di jembatan penyebrangan,  stasiun, trotoar, anak jalanan yang  tidur terlentang  di pinggir jalan serasa tidur di atas kasur  yang empuk  *(tepatnya pernah terlihat di terminal  kampung rambutan, dengan polosnya saya berpikir waktu itu di pagi hari menuju kesekolah, kalau perempuan itu  adalah jenazah), hingga seorang nenek yang sudah tidak berdaya tergeletak di pinggir kota ini *(nenek ini diketemukan oleh seorang pengendara mobil di balik rimbunannya pepohonan salah satu hutan kota di Jakarta Timur. Tepat di sebrangnya adalah pusat perbelanjaan mewah. Waktu itu saya dan teman-teman pulang dari latihan pramuka di perjalanan ada serang bapak yang meminta bantuan kami, dia menemukan seorang nenek kurus kerontang. Nenek itu keadaannya sangat lemah, Untuk berdiri saja tidak mampu, mungkin karena tidak makan selama beberapa hari dan bisa meninggal dunia jika dibiarkan disitu, sehingga kami menggangkatnya ketempat yang aman melewati saluran air bebatuan. Dan sang pengendara mobil memanggil ambulans). Tapi, apa kita harus terus “membiasakan” diri melihat pemandanganseperti ini? Gambaran ini menjadi cerminan bahwa belum sejahteranya seluruh masyarakat Indonesia khususnya  warga Jakarta, yang baru menambah satu angka di usianya.  Usia 484 tahun bukanlah usia yang muda, bung *(om, pak, bu, bro dsb).seharususnya sudah dapat bersikap bijak. Atau mungkin karena  begitu tuanya usia kota inisehingga “tergopoh-gopoh” bahkan “rabun” akan keadaan ini.

-qiqin-

2 thoughts on “JAKARTA KOTA YANG RENTA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s