Konservasi Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus)

ini masih tugas matakuliah KSDAH (Konservasi Sumber Daya Alam Hayati), di smester3. berisi tentang gerakan untuk konservasi orangutan kalimantan.

orang utan kalimantan yang ada di Kebun Binatang Ragunan

orang utan kalimantan yang ada di Kebun Binatang Ragunan

  1. Deskripsi Orangutan Kalimantan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati sehingga masuk dalam urutan ke-3 megabiodiversity country setelah Brazil dan Kongo. Salah satunya Indonesia kaya akan keanekaragaman spesies primata. Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa 20% spesies primata dunia dapat ditemukan di Indonesia. Salah satu dari spesies primata tersebut adalah Orangutan.

Orangutan merupakan satu-satunya dari empat kera besar yang hidup di Asia, ketiga kera besar lainnya yaitu gorilla, simpanse dan bonodo ditemukan di wilayah Afrika (Suhud dan Saleh, 2007). Total populasinya 90% berada di wilayah Indonesia, yaitu hanya dapat ditemukan di Borneo (Kalimantan) dan di bagian utara Sumatera. Padahal menurut catatan fosil para ahli, Orangutan hingga akhir Pleistone dapat ditemukan di sebagian besar hutan dataran rendah di Asia Tenggara, dari kaki perbukitan Wuliang Shan di Yunan, Cina Selatan, sampai ke selatan Pulau Jawa, dengan luas sebaran total yakni 1,5 juta km² (Rijksen dan Meijard, 1999). Menurut Sri Suci Utami Atmoko (2007), Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) terpisahkan secara geografis paling sedikit sejak 10.000 tahun yang lalu, saat tejadi kenaikan permukaan air laut antar kedua pulau itu.

Terdapat perbedaan yang dapat dilihat dengan memperhatikan morfologi dan tingkah laku diantara keduanya. Dilihat dari morfologi, Orangutan Kalimantan memiliki warna rambut yang lebih cerah dan tubuh yang lebih besar dibanding Orangutan Sumatera. Tingkah laku Orangutan Kalimantan di alam yaitu bergerak lebih lambat dan sering melakukan aktifitas turun dari pohon dan menginjak tanah. Sedangkan Orangutan Sumatera mempunyai tingkah laku yang lebih aktif dan jarang melakukan aktifitasnya di tanah. Hal ini untuk menghindari diri dari satwa pemangsa di Sumatera yang dapat mengancamnya yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris). Jika dibandingkanantara jantan dan betina, menurut penelitian Purwo Kuncoro (2004) Orangutan jantan melakukan lebih banyak aktivitas dibanding Orangutan betina.

Orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) temasuk kedalam famili Hominidae dengan penyebaran di Kalimantan (Indonesia), Sabah dan Serawak (Malaysia). Orangutan kalimantan adalah salah satu dari 44 satwa endemik yang ada di Kalimantan (Santosa, 2008).  Orangutan Kalimantan terbagi dalam tiga sub-jenis berdasarkan variasi morfologi dan genetik yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus (dibagian barat laut Kalmantan dan Sabah), Pongo pygmaeus wurmbii (di bagian barat daya Kalimantan), dan Pongo pygmaeus morio (dibagian timur Kalimantan dan Sabah) (Warren dkk. 2001).

  1. Ancaman Kelestarian Orangutan Kalimantan

Seperti halnya kera besar lainnya, Orangutan merupakan salah satu primata yang terancam punah di dunia. Orangutan dalam Red List IUCN (2008) termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Yang dimaksud dengan kategori Genting adalah suatu spesies dengan resiko kepunahan yag sangat tinggi di alam dalam waktu dekat, dan berisiko menjadi kritis. Dalam praktiknya  yang dimasukkan ke dalam golongan ini adalah spesies yang dalam 20 tahun atau 5 generasi memiliki rasio kepunahan lebih besar dari 50% (Primack dkk, 2007). Menurut Singleton dkk. (2004), total jumlah Orangutan diperkirakan akan menurun 14% selama kurun waktu 10 tahun yang lalu sampai pertengahan abad 20 ini.

Ancaman akan populasi satwa ini semakin besar, bukan hanya karena ancaman dari habitatnya namun juga ancaman yang ditimbulkan dari aktifitas manusia yang tidak bertanggung jawab. Perusakan hutan, konversi lahan untuk perkebunan, kebakaran hutan, eksploitasi habitat dan penebangan liar, terfragmentasinya habitat Orangutan, perburuan, dan perdagangan menjadi penyebab utama penurunan satwa ini.

Perububahan iklim juga memainkan peran penting terhadap hilangnya Orangutan Kalimantan dan akan meningkatkn keterancaman spesies genting ini dimasa mendatang. Pada tahun 1997/1998 kekeringan yang luas terjadi di Kalimantan akibat adanya El Nino yang kemudian menyebabkan kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi (Suhud dan Saleh, 2007). Hal ini juga dibuktikan oleh data yang dipublikasikan oleh Rijksen dan Meijaard pada tahun 1999 menunjukkan telah hilangnya 33% Orangutan Kalimantan selama kebakaran hutan periode tahun 1990-an.

Penebangan liar yang akibatnya merusak habitat  Orangutan diakibatkan kurangnya kepedulian lokal mengenai penebangan liar. WWF mencatat bahwa kebanyakan orang di Borneo tidak begitu khawatir dengan penebangan liar. Bahkan, kelangkaan pekerjaan berarti bahwa rata-rata orang akan senang bekerja di sektor kehutanan, tak peduli dijalankan secara legal ataupun tidak. Hal ini dipicu oleh peningkatan populasi manusia yang kemudian menimbulkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri melalui ketersediaannya lapangan pekerjaan. Sehingga melakuan hal-hal yang tidak bertanggung jawab menjadi pilihan manusia untuk pemenuhan kebutuhannya.

Perdagangan Orangutan pun kian marak dengan berkurangnya populasi Orangutan di alam. Padahal Orang utan masuk dalam Appendiks I CITES (2001), yang berarti Orangutan tidak boleh diperdagangkan dimanapun juga. Namun, sistem penegakan hukum yang masih kurang sehingga masih ada saja kasus perdaganggan satwa yang dilindungi. Seperti kasus 48 Orangutan yang diselundupkan ke Thailand (Atmoko, 2007)

Orangutan hidup dalam kawasan yang dilindungi dan tidak dilindungi. Orangutan kalimantan terdapat dalam 15 kawasan perlindungan, namun separuh dari kawasan yang ada bukan merupakan habitat yang medukung  bagi Orangutan. Ditambah lagi penyusutan yang drastis terus terjadi selama dua dekade terakhir (Atmoko, 2007). Habitat yang berkurang dengan adanya perubahan hutan tropis di pulau ini dan adanya konersi hutan tropis menjadi perkebunan. Perkebunan di bidang pertanian ini tidak hanya perkebunan kelapa sawit, tetapi juga akasia, padi, coklat dan sebagainya. Akibat pengkonversian lahan ini 15,5 juta hektar hutan tropis (24% dari total wilayah hutan) terhitung sejak tahun 1985 dan 1997 di sumatera dan kalimantan (FAO, 2000). Kini hanya 86.000 km² habitat yang tersedia bagi Orangutan.

Konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan merupakan respon dari  besarnya kebutuhan internasional akan komoditas ini diantaranya dipergunakan untuk memasak, kosmetik, mekanik dan kebutuhan untuk dijadikan sumberdaya penghasil biodiesel.

Kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Kelapa sawit telah menjadi produk pertanian yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel (Butler, 2010).

Membuka hutan hujan di dataran rendah untuk perkebunan merupakan pengundulan hutan yang menyumbang 24% dari pengggundulan hutan di Indonesia adalah untuk perkebunan kelapa sawit (FAO, 2000). Menjadi sangat perhatian bahwa Indonesia telah mengumumkan rencananya untuk melipatgandakan produksi minyak kelapa mentahnya pada tahun 2025 (Butler, 2010), suatu target yang akan membutuhkan 2 kali lipat peningkatan di hasilnya atau justru memperluas daerah yang akan ditanami kelapa sawit. Hal ini menjadi perhatian besar, karena jika dilakukan perluasan daerah penanaman kelapa sawit berarti semakin luas hutan yang di konversi, dan semakin menempitnya habitat ruang gerak Orangutan Kalimantan.

Selain dampak penggundulan hutan ada dampak lain yang harus diperhatikan oleh semua pihak yakni dampak terhadap lingkungan. Perkebunan di Indonesia sangat merusak karenanya setelah 25 tahun masa panen, lahan kelapa sawit kebanyakan ditinggalkan dan menjadi semak belukar. Tanah mungkin akan kehabisan nutrisi, terutama pada lingkungan yang mengandung asam, sehingga beberapa tanaman mungkin tumbuh, menjadikan wilayah tersebut tanpa vegetasi selain rumput-rumput liar yang akan mudah sekali terbakar.

Beberapa studi telah menemukan penurunan jumlah keanekaragaman hayati diantaranya penurunan  80% sampai 90% mamalia, burung dan reptil (Butler, 2010). Banyak hewan yang tidak aan dapat masuk perkebunan, seperti Orangutan yang menjadi hama perkebunan sehingga beberapa perusahaan memusnahkannya dengan perburuan liar petugas perkebunan atas dasar  penangulangan kerusakan yang akan dilaukan oleh Orangutan.Dengan adanya perkebunan kelapa sawit seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa lahan bekas garapan Kelapa sawit tidaklah lagi subur, sehingga secara tidak langsung perkebunan kelapa sawit mengurangi daya dukung hidup satwa liar pemakan tumbuhan seperti Orangutan yang merupakan pemakan buah (frugivory), namun terkadang memakan serangga, sehingga Orangutan terancam kelestariaanya. Pengurangan daya dukung ini (berkurangnya luasan habitat, berkurangnya ketersediaan makanan dan minuman) perlahan-lahan akan menyebabkan kepunahan. Suatu spesies dikatakan punah ketika tidak ada satu pun individu dari spesies itu yang masih hidup di dunia (Primack dkk, 2007). Kondisi Orangutan saat ini sangatlah memprihatinkan, namun legi-lagi diperparah oleh aktivitas manusia yang terus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Membahas mengenai pemusnahan Orangutan Kalimatan oleh perusahaan perkebuanan Kelapa sawit secara sengaja karena dianggap hama perusak dengan perburuan secara liar oleh petugas perkebunan adalah suatu ironi bagi negeri ini. Disisi lain upaya-upaya telah dilakukan seperti pembuatan Peraturan Perlindungan binatang liar No.233 Tahun 1931, UU No. 5 Tahun 1990, SK MenHut 10 Juni 1991 No. 301/Kpts-II/1991 dan PP No. 7 Tahun 1999 sebagai bentuk upaya penegakan hukum. Namun smuanya kembali kepada penyadaran akan pentingnya melindungi satwa endemik ini dengan penanaman etika konservasi dengan terus melakukan gerakan yang nyata untuk mengkonservasi Orangutan.

  1. Upaya Penyelamatan Orangutan Kalimantan

Tanpa mempedulikan jumlahnya atau pentingnya bagi manusia, bernilai ekonomi tinggi atau tidak, setiap spesies memiliki hak untuk hidup dan kelanjutan hidup setiap spesies harus dijamin karena semua spesies memiliki nilai intrinsik sesuai pandangan ekosentris (Deep ecology). Nilai intrinsik adalah nilai yang terkandung dalam sumberdaya (Fauzi, 2006).

Pengertian Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menurut UU No.50 Tahun 1990, adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap menjaga, memelihara, dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Salah satu keanekaragaman hayati Indonesia yang perlu diselamatkan melalui konservasi adalah Orangutan. Adanya gangguan yang dialami salah satu unsur berarti terganggunya seluruh ekosistem (Olivia, 2004), sehingga kelestarian pemanfaatan dikhawatirkan akan tergangu pula.

Untuk menanggulangi keterancaman punahnya Orangutan Kalimantan semenjak tahun 1960-an telah dilakukan program reabilitasi Orangutan dengan tujuan utama untuk penambahan populasi serta penikatan kualitas hidup Orangutan (Atmoko, 2007). Rehabilitasi adalah proses pengembalian hewan-hewan liar dari kehidupan tangkapan ke kehidupan liar dalam suatu lingkungan alami (Alikodra, 2010) Proyek-proyek rehabilitasi menjadi salah satu jalan keluar dalam menanggulangi keterancaman suatu spsies rehabiltasi pada prosesnya juga harus melakukan pendididkan konservasi dan upaya pelestarian dengan melibatkan masyrakat setempat dan secara meluas. Rehabilitasi dilakukan di daerah sebaran Orangutan Kalimantan, salah satunya Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Tags: , , , ,

6 responses to “Konservasi Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus)”

  1. yosef kansius says :

    Bagaimana caranya untuk bs bergabung menjadi aktifis ataupun relawan disana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s